Setelah menjual beberapa benda yang sudah tidak terpakai, uangnya dipakai pindahan. Barang-barang kecil seperti kipas angin, setrika, jam dinding saya berikan ke tetangga secara cuma-cuma karena saya tak ada waktu memperbaikinya. Kecuali untuk komputer yang rusak, pada akhirnya tidak jadi dijual, karena ada teman satu kota yang bersedia memperbaiki dan mempergunakan untuk keperluan bisnisnya, dan suatu saat akan dikembalikan ke saya.

Baca juga postingan sebelumnya: Ketika Saya Mulai Hidup Minimalis (Part I)

Memang ada bagusnya juga komputer tidak jadi dijual, supaya kalau suatu hari nanti saya sudah siap melanjutkan bisnis, saya masih punya fasilitas karyawan. Saya beristirahat dari segala urusan pekerjaan dan hanya mengurus anak, tetapi anak saya cepat bosan bareng saya terus, dia mulai mendapatkan teman.

Daripada nganggur, saya perlahan-lahan mengikuti ritme rutinitas yang sempat terlupakan. Membalas chat, memeriksa konfirmasi pembayaran, mengurus orderan, dan sesekali ngeblog. Akhirnya saya sadar, bahwa saya tipe orang yang suka bekerja.

Di tempat tinggal yang baru, saya ternyata masih memiliki benda yang cukup memenuhi ruangan.

1. Meja Rias Kayu Solid



Sebenarnya meja rias ini model minimalis, karena tidak memakai banyak hiasan dan kursinya bisa dimasukkan ke kolong meja saat tidak digunakan. Tapi dengan memiliki meja rias ini, saya selalu terdorong untuk membeli banyak produk, yang mana sangat bertentangan bagi penganut minimalis. Kalau untuk sekedar berdandan, bagi saya sebuah cermin di dinding dengan rak tempel saja sudah cukup.

2. Kasur Busa


Saya memiliki 2 kasur busa yang dulunya dipakai untuk mess karyawan. Saya masih memikirkan kemana kasur ini akan dipindahkan, karena kalau dijual, orang tua tidak akan setuju. Lebih baik dipakai untuk fasilitas kost tetapi mungkin nanti setelah ada kamar yang kosong. Karena tempat kost yang dikelola ibu saya sudah penuh, dimana penghuni kost sudah memiliki kasur masing-masing. Kalau seandainya Raisa sudah besar dan memiliki kamar terpisah, saya lebih suka kasur gulung seperti yang digunakan orang-orang Jepang. Tujuannya agar bisa disimpan ke dalam lemari saat tidak digunakan, sehingga kasur bebas dari debu.

3. Kulkas


Ini adalah barang yang paling menghabiskan banyak ruang di gudang. Dulu saya asal-asalan beli kulkas, karena saya pikir semua kulkas sama saja. Ternyata setelah 5 tahun berumah tangga, kulkas yang saya beli ini terlalu besar untuk ukuran dapur minimalis. Saya membayangkan jika seandainya saya hidup sebagai single mom dan membesarkan seorang anak, kulkas mini yang bisa ditaruh di kolong meja dapur sudah cukup. Toh, ngapain juga saya menyimpan persediaan terlalu banyak kalau saya tidak punya karyawan.

4. Stabilizer


Biasanya stabilizer ini berguna untuk menjaga agar aliran listrik tetap stabil sehingga peralatan elektronik lebih awet. Mungkin salah saya dulu membiarkan stabilizer ini begitu saja, sehingga saat kejadian listrik mati mendadak, komputer rusak semua. Ya sudahlah, mungkin suatu saat nanti akan berguna jika saya meneruskan usaha kembali.

5. Hub


Fungsi hub ini dulunya sebagai lalu lintas kabel LAN kepada setiap komputer. Tetapi karena sekarang komputer sudah dipasang penangkap wi-fi, jadinya hub beserta kabel-kabelnya tidak lagi dibutuhkan. Sejauh yang saya ingat, hub ini sebenarnya barang mantan sih, tetapi dia pergi bukan dengan cara yang baik sehingga saya kesulitan mengembalikan barang ini. Alamat rumahnya pun saya tak tahu, meski 2 tahun pacaran dan janji menikah, tapi tidak pernah dipertemukan ke orang tuanya. Saya tidak mau menghubungi dia, boleh jadi karena saya takut, dia pernah melakukan pelanggaran privasi yang serius.

6. Printer Canon Pixma iP700


Sewaktu saya butuh printer, saya ditawari printer jadul ini dan tanpa menawar saya beli. Sayangnya, printer ini sering bermasalah. Karena kepepet mengurus orderan, saya beli printer baru. Jadinya ya begitu deh si printer lama terlantar begitu saja, padahal kalau dijual atau diberikan cuma-cuma kepada orang yang membutuhkan, niscaya akan lebih bermanfaat. Nah salah saya itu dulu gak pernah punya waktu untuk mengelola barang-barang elektronik, sepertinya jika sudah kembali berbisnis, saya akan menyempatkan sebulan sekali untuk mengelola perabotan.

Perjuangan hidup minimalis seperti tak ada habisnya, karena terasa berat di awal-awal. Dari menuliskan daftar benda-benda ini saya jadi bisa mengevaluasi bagaimana bisnis saya berjalan dari tahun ke tahun, dimana letak kesalahan saya dan apa rencana saya selanjutnya agar setiap barang yang saya beli bisa dipergunakan maksimal.