Ayahku gila, dan Camilla juga sama gilanya karena memilih dia daripada aku. Aku tidak menikmati masa-masa kecil yang bahagia seperti anak-anak perempuan seusiaku, maka aku kabur dan tidak pernah melihat ke belakang. Aku sangat benci dengan pria seperti ayah, pria yang menjadikan tangisan wanita sebagai kesenangan.

Dua puluh tahun pun berlalu. Aku hidup sebagai penggemar pria-pria sadis, meneror mereka, membeberkan rahasia mereka dan mengalokasikan uang mereka pada pihak-pihak yang pantas menerimanya. Jika ada yang bertanya mengapa aku bisa melakukan semua itu dengan mudah, maka kujawab: Aku hanya mengikuti insting-ku. 

---------

Film ketiga, dibintangi oleh Claire Foy.
Cuplikan di atas adalah potongan dari film The Girl In The Spider's Web, film ketiga yang menceritakan seorang gadis introvert bernama Lisbeth Salander. Dalam kesehariannya, Lisbeth berpakaian serba hitam, memangkas pendek rambutnya dan bertato. Dari penampilannya tak akan ada yang menyangka bahwa Lisbeth bekerja untuk orang-orang tertentu sebagai hacker yang memiliki ingatan fotografis.

Lisbeth masih memiliki orientasi yang tak jelas, entah dia menyukai wanita atau pria. Mungkin karena sedari kecil ia membenci ayahnya yang suka menyiksa wanita sehingga merasa lebih nyaman tidur bersama perempuan yang ia temui di bar, tetapi ia juga sesekali berkomunikasi jarak jauh dengan seorang reporter bernama Mikael Bloomvisk.

Karena suatu hal, Lisbeth tak bisa mempercayai Mikael sebagai pria. Padahal di masa lalu, mereka berdua sangat cocok bekerja sama dengan memadukan keahlian jurnalis dan hacking. Lalu di film The Girl In The Spider's Web ini, mereka berdua dipertemukan saat sedang menyelediki kasus yang sama. Mikael terobsesi menyelidiki kasus ini, sampai akhirnya ia menyadari bahwa semua petunjuk mengarah pada saudari Lisbeth, Camilla Salander.

Camilla berdiri di tepi jurang, memegang koper kecil yang diincar oleh Lisbeth. Dengan lirih Camilla berkata, "Selama bertahun-tahun ke belakang, kau hidup sebagai pahlawan yang menjebloskan pria-pria sadis ke penjara. Tapi kenapa, kau tidak menolongku?"

Lisbeth mengarahkan pistol pada Camilla sambil menahan tangis, "Aku tidak bisa!"

"Kenapa tidak bisa?" tanya Camilla tak paham.

Lisbeth menurunkan pistolnya dan melepaskan tangis, "Kau memilih dia!"

Demikianlah, emosi anak-anak yang tak kunjung selesai bertahun-tahun, mempertemukan kembali dua bersaudari dari keluarga yang tak bahagia. Camilla loncat dari tebing, seperti yang dilakukan Lisbeth dua puluh tahun lalu saat mengajak kabur.

-----------

Jika tertarik mengenal kisah Lisbeth Salander lebih jauh, kalian bisa menonton film pertama dan keduanya namun masing-masing dari film tersebut dibintangi oleh dua artis yang berbeda.

Film pertama
Kehidupan Lisbeth saat remaja diceritakan melalui film The Girl With The Dragon Tattoo, yang mana pada masa-masa itu Lisbeth diasuh oleh negara dengan hukum perwalian. Lisbeth dianggap tidak kompeten mengelola emosi dan berinteraksi dengan orang-orang, sehingga ia harus diasuh oleh wali yang ditunjuk oleh hukum. Seperti uang makan, sewa tempat tinggal dan sebagainya akan ia dapat dengan cara meminta pada walinya.

Sayangnya, sang wali, Bjurman memanfaatkan posisi Lisbeth yang sedang butuh uang. Mau tak mau Lisbeth terpaksa melayani tuntutan tidak pantas dari Bjurman demi mendapatkan sebuah laptop. Namun kejadian tersebut menjadi pemicu Lisbeth untuk memutar balik keadaan, yaitu dengan cara menaruh kamera tersembunyi yang merekam Bjurman melakukan itu padanya. Lisbeth mengancam akan menyebarkan video rekaman itu jika Bjurman tidak menuruti permintaannya.

Bjurman menulis laporan bahwa Lisbeth dinyatakan mandiri secara emosi dan finansial. Maka sejak itu, kehidupan Lisbeth sebagai orang dewasa pun dimulai pada film The Girl Who Played With Fire.

Film kedua.
------------

Menurut pendapat saya, aksi Rooney Mara di film pertama sangat mewakili peran Lisbeth Salander karena dia berperawakan kurus dan berkulit putih pucat, selain itu dia mampu berakting dengan baik.

Berbeda saat dimainkan oleh Noomi Rapace di film kedua, jujur agak kurang puas karena tidak sesuai ekspektasi.

Namun pada saat melihat Claire Foy di film ketiganya ini saya terpuaskan kembali. Apalagi boleh dibilang film yang ketiga lebih sarat makna, alur cerita yang menarik mengikuti novelnya, dan lebih aman ditonton.