Monday, May 2, 2016

Cinlok Saat Wawancara


Saya tertarik menulis ini setelah menonton film "SUPERNOVA: Kesatria, Puteri, dan Bintang Jatuh" yang diangkat dari novel karya Dee Lestari. Saya menemukan kesamaan kecil dengan film barat yang pernah saya tonton dulu, "Fifty Shades of Grey" dimana kisah percintaan tokoh utama bermula dari sebuah wawancara atau istilah umumnya 'cinlok' hehehe.

Fifty Shades of Grey menceritakan seorang pengusaha sukses bernama Christian Grey. Dia muda, tampan, dan kaya. Idaman semua wanita deh pokoknya. Anastasia Steele, seorang mahasiswi, menggantikan teman satu kost-nya yang telah membuat janji wawancara dengan Mr. Grey dan mereka berdua hanyut dalam percakapan yang keluar dari topik wawancara itu sendiri.

Anastasia tenggelam ke sisi gelap Mr. Grey yang ternyata seorang sadomasocist! Mr. Grey tidak mau mempublikasikan urusan percintaan karena itu akan merusak karirnya, sehingga setiap wanita yang bersedia menerimanya harus paham dengan konsekuensi tersebut. Anastasia yang lugu, tentu saja tidak bisa menolak Mr. Grey, akan tetapi sebagai seorang wanita Anastasia juga ingin mendapat pengakuan di depan semua orang. Karena bosan terus-terusan disiksa, akhirnya Anastasia pergi.

Konflik hanya terjadi pada Anastasia. Mr. Grey cenderung tidak mendapat tekanan yang sepadan. Selebihnya film ini heboh karena adegan panasnya. (Habis ini saya pasti di-bully sama penikmat film karena ngasih spoiler, hihihi...)

Supernova juga menceritakan seorang pengusaha yang sukses, tampan, masih muda dan kaya raya bernama Ferre. Dia menerima tawaran wawancara dari sebuah majalah wanita karena kebetulan jadwalnya sedang kosong. Secara mendadak, Rana si wakil pemred majalah tersebut, datang tanpa persiapan namun dia cukup cerdas untuk memulai percakapan yang tidak tertebak.

Rana jatuh cinta pada Ferre tapi masalahnya, dia sudah menikah. Jika ia minta cerai, itu tidak hanya menyakiti suaminya, tapi juga mengecewakan keluarganya. Maka Rana memilih untuk menjalani hubungan dengan Ferre secara sembunyi-sembunyi. Namun bagi Ferre, sembunyi-sembunyi begitu tidak ada enaknya.

Ferre meminta Rana untuk memilih. Walaupun keputusan tersebut sangatlah berat, Rana kembali pada suaminya dan itu membuat Ferre hancur.

Konflik disini sangat terasa menegangkan karena tokoh yang selingkuh adalah wanita, sehingga tidak ada pembelaan poligami seperti halnya pria. Tekanan yang dialami Ferre juga sebanding, ingin mendapat pengakuan tapi malah ditinggalkan.

Secara keseluruhan film Supernova lebih bernilai, menghibur dan banyak pesan moral yang tersampaikan. Baru kali ini saya bangga dengan film Indonesia dibanding film barat.

Maaf buat penggemar Fifty Shades of Grey, ini hanya sebatas opini saya sebagai orang yang hobi nonton, dan bisanya cuma nonton karena saya tau bikin film itu gak gampang. Peace~ :D

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda menentukan kualitas diri Anda.
Jika menambahkan link hidup atau berbau SARA, maka akan saya hapus.