Follow Us @soratemplates

Monday, April 22, 2019

Masa Depan Blog Ini, Mau Jadi Apa?

7:09 PM 36 Comments

Saya gak percaya kata-kata motivasi, karena pada akhirnya kata-kata penyemangat yang mereka jual hanyalah terasa manis didengar, tetapi sulit untuk dilakukan. Betul, tidak?

Namun, ada sebuah ungkapan yang membuat semangat saya kembali berkobar.

If you can dream, you can do it. 

Sebuah ungkapan sederhana, yang mana jika kita berani membayangkannya, maka besar kemungkinan itulah yang bisa kita lakukan.

Saya sangat suka menulis. Sewaktu saya menulis skenario, usia saya saat itu masih 21 tahun. Ternyata menulis naskah film itu tidak langsung dibayar ketika naskah selesai, tetapi penulis juga perlu secara suka rela datang ke lokasi shooting untuk memastikan pemahaman sutadara sama dengan penulis. Saya pikir nanggung kalau sudah datang jauh-jauh ke lokasi apalagi selama 3 hari 2 malam menginap di gunung, maka saya putuskan menjadi asisten sutradara untuk menambah pemasukan. Selain itu pada tahap pasca produksi, saya juga datang ke ruang editing biar dapet makan gratis. Hahaha!

Itu baru pengalaman saya di komunitas kecil yang memproduksi video-video berdurasi pendek. Kalau di Production House besar, mungkin si penulis hanya fokus pada pekerjaan menulis saja dan tidak ikut terlibat hal-hal lain.

Teman saya ada yang jago banget soal SEO. Waktu itu saya menulis untuk dia, berhubung saya gak ngerti soal Adsense, maka saya tidak keberatan dibayar per artikel. Sampai sekarang pun saya masih berhubungan baik dengan dia, berkat dia pula saya mulai melirik Adsense.

Saya teringat awal mula membuat blog ini, yang waktu itu saya masih berstatus lajang. Saya tersenyum sendiri mengingat diri saya yang waktu itu mengevaluasi pekerjaan dan merencanakan semua langkah-langkah sendiri, seperti orang gila yang tidak bisa dihentikan.

Setelah membentuk sebuah tim, saya mengeluh si A kerjanya gak serius, si B postingannya kurang bagus, dan sebagainya. Pada akhirnya mereka semua pergi, sebagian atas kemauan sendiri, sebagian saya sudahi sepihak.

Yaah, mau bagaimana lagi.

Jadi, setelah semua hal yang saya lalui, saya ingin mengerjakan apa yang sedari dulu diinginkan.

Dulu saya tidak sempat menulis karena sibuk menjalankan usaha. Tetapi sekarang saya punya waktu yang tidak terbatas. Daripada mengirim tulisan ke media, saya pikir lebih baik menerbitkan di blog sendiri supaya semua penayangan menjadi milik kita.

Blog ini akan saya fokuskan pada review kdrama dan film, agar saya bisa menceritakan kembali semua yang sudah saya tonton. Adakah yang bersedia memberi saran? Kritik pedas pun saya terima, karena saya suka yang pedas-pedas, kalau bisa pakai bon cabe. Hahaha!


Salam ngeblog dari author! 
Tetep semangat walau pembaca sedikit ya~

Sunday, April 14, 2019

[REVIEW] How To Train Your Dragon 3: The Hidden World

12:47 PM 19 Comments


Awal mula tahu "How To Train Your Dragon (HTTYD)" sewaktu masih berlangganan internet yang udah sepaket sama channel TV berbayar. Dari situ ada channel anak-anak yang menampilkan serial HTTYD, dengan durasi pendek tentunya. Saya jadi akrab sama tokoh-tokoh didalamnya yaitu Hiccup dan Astrid. Lalu melalui internet saya tahu bahwa HTTYD ini sudah ada novel dan film-nya, maka saya tonton melalui website streaming, langsung habis ketonton film seri pertama dan kedua.

Toothless, Naga Jantan Spesies Langka, Bertemu Naga Betina


Sekarang pas udah ada film ketiganya, saya udah nunggu-nunggu banget! Apalagi naga milik Hiccup, Toothless adalah naga Night Furry yang tergolong spesies langka. Di film yang ketiga ini, The Hidden World, Toothless bertemu dengan naga betina Light Furry. Naga Furry berpasangan sekali seumur hidup, maka ketika Toothless menemukan betina yang sama-sama langka, Toothless akan berusaha mendekati si betina.

Masalahnya, Toothless sudah memiliki majikan, selain itu ia juga menduduki posisi naga Alpha yang memimpin semua naga. Apabila Toothless memutuskan kawin dengan si betina, maka si betina yang tidak memiliki majikan lebih memilih tinggal di The Hidden World, tempat di ujung bumi dimana semua naga-naga bersemayam jauh dari peradaban manusia. Semua naga-naga milik penduduk juga harus dilepas karena mereka mengikuti Alpha.

Kalau kamu suka mengamati perilaku hewan, mungkin kamu gak akan cepat bosan saat melihat bagaimana proses pendekatan dua naga Furry ini. Tidak ada dialog, tidak ada kata-kata, tapi naga-naga adalah makhluk cerdas yang cepat tanggap dan punya cara sendiri untuk berbicara.

Desa Berk, Leluhur Viking, dan Beratnya Pernikahan


Hiccup yang sudah melewati perjalanan panjang bersama Toothless tidak punya pilihan selain melepaskannya. Sebagaimana naga-naga lain seumuran Toothless, tentu sudah waktunya menemukan pasangan. Lagipula sebagai kepala suku, Hiccup sudah waktunya mempersiapkan diri untuk menikahi Astrid.

Desa Berk ini memiliki leluhur Bangsa Viking, terkenal dengan tabiat mereka yang keras kepala, namun mereka suka makan malam bersama. Bayangin lho, orang-orang satu pulau mereka semua makan-makan bareng! Jaman sekarang udah langka kebersamaan yang begitu, mau makan-makan alumni aja gak semuanya hadir. Oke fokus ke pembicaraan Gobber ya.

Jadi si Gobber ini ahli kayu di desa Berk yang memberi nasehat pada Hiccup dan Astrid.

"Disini cuma kalian berdua yang waras, jadi berhentilah memikirkan ancaman dari luar dan menikah."

Spontan, yang merespon bukan Hiccup dan Astrid, tapi teman-temannya.

"Tunggu, aku seperti mendengar kata M- apa itu?!" tanya Tuffnut yang mendadak berhenti berkelahi dengan saudarinya, Ruffnut.

Dan Ruffnut hanya tertegun tanpa ekspresi sambil menjawab, "Jijik."

HAHAHA! Ketawa saya gak kekontrol. Rasanya orang lain gak akan paham lucunya dimana. Tapi bagi saya cara Ruffnut mengatakan jijik pada pernikahan, itu kena banget. Ruffnut itu kan berjiwa bebas, dia perempuan tangguh pengendara naga, mana sempat dia memikirkan soal menikah.

Mungkin itu sebabnya penghuni Berk sedikit, karena mayoritas tidak mau menikah dan diatur-atur oleh pasangan. Tapi Hiccup berbeda, dia kepala suku, dia harus menjadi contoh yang baik.

Melepaskan Toothless, Berarti Melepaskan Semua Naga Penduduk


Selain keputusan berat yang harus diambil Hiccup dalam melepaskan semua naga, konflik di film ini juga terletak pada kehadiran tokoh Grimmel Si Pemburu Naga. Grimmel ingin memusnahkan semua naga Furry karena dianggap ancaman bagi kaumnya. Karena sudah berpengalaman dalam berburu, maka Grimmel menggunakan Light Furry sebagai umpan, agar Toothles masuk ke dalam perangkap.

Ternyata, Hiccup yang mulai berpikir dia tidak bisa apa-apa tanpa Toothless, mulai berjuang membebaskan Toothless dan pasangannya. Bukan untuk kepentingan dirinya, tapi murni agar Toothless bisa bahagia bersama Light Furry.

Cinta Hiccup pada Toothless ini lebih dari sekedar majikan dan piaraan, tapi mereka seperti sahabat. Ketika sudah waktunya seorang sahabat menikah dan membangun keluarga, ada sedikit perasaan haru kita ikut bahagia, sekaligus dalam waktu yang bersamaan kita pun kehilangan dia. Berkurangnya komunikasi dan waktu bertemu. Semudah itu persahabatan yang terjalin bertahun-tahun akan musnah ketika makhluk biologis mengikuti insting berkembang biak.

Masa lalu tentang keberadaan naga-naga yang hidup berdampingan dengan manusia kini hanya sekedar dongeng. Orang-orang seiring dengan waktu melupakan naga dan tidak percaya pada dongeng.

Hiccup yang sudah berjenggot, Astrid yang tidak lagi gesit dan kini berkeriput, tiba-tiba dikagetkan saat sedang berlayar. Bayangan hitam besar menyeruak dari balik kabut, menghantam Hiccup ke dek kapal. Makhluk besar dan hitam itu adalah Toothless! Dengan membawa keluarganya!

Friday, April 12, 2019

Trik Agar Blogger Bisa Hidup Tenang Bebas Omelan Tetangga

5:13 PM 32 Comments


Percaya atau tidak saya dapat ide tulisan ini dari blogwalking! Tidak ada sumber yang jelas namun karena saya berkomentar kesana-kemari tiba-tiba saja terlintas judul ini.

Memang lah ya, gak sia-sia dulu saya bilang "blogwalking sebagai metode promosi blog yang akan digunakan sampai kapan pun", karena selain berpengaruh positif pada ketenaran blog kita, kita juga mendapatkan teman-teman yang membuat hari-hari kita gak sepi walau dihabiskan sebagian besar di rumah.

Dan manfaat yang paling saya rasakan ini, seringkali ketika sedang kehabisan topik jadi dapat ide posting.. Yaaaa... Semangat blogwalking semuanya!

Sebagai orang yang bekerja dari rumah, sebenarnya status saya bukan murni seorang blogger yang mendapat pemasukan dari iklan sih. Saya ngeblog karena saya suka menulis, kemudian saya memposting produk-produk kecantikan, saya jualan. Darisana lah saya dapat pemasukan untuk bayar tagihan internet, listrik, kontrakan, dll.

Kendala ngeblog bukan berasal dari diri sendiri, tapi dari faktor orang sekitar. Ada yang curiga mengapa saya bisa membayar semua tagihan, sering dapat kiriman JNE, padahal gak pernah pergi ke kantor. Dapat uang darimana coba, udah pengangguran gitu di rumah terus, kerjanya kutak ketik, bahkan sempet-sempetnya maen game di jam kerja.

Pernah baca kiriman di akun facebook teman yang kebetulan punya blog travel, salah satu trik agar kita gak dipandang rendah sebagai freelancer yaitu dengan sosialisasi.

1. Rajin Berinteraksi dengan Tetangga, Kalau Perlu Jelaskan dan Perlihatkan Hasil Pekerjaan Kita




Masyarakat masih berpikir bahwa pekerjaan itu harus "nyata". Maksudnya, nyata apa yang kita kerjakan di mata mereka. Kalau orang sering berangkat pagi dengan pakaian rapi dan pulang sore (dengan wajah kucel abis dimarahin bos), baru bisa dianggap punya pekerjaan tetap.

Blogger itu jarang keluar rumah. Kamu yang hanya mengandalkan pemasukan dari iklan, mau tidak mau harus rajin berinteraksi dengan tetangga supaya gak diomeli. "Pak, Bu, jaman sekarang kerja itu gak harus berangkat ke kantor. Saya kerja di rumah, bikin artikel, nih artikel saya bisa dibaca semua orang.." (sambil menunjukkan salah satu postingan blog kita)

Kemudian kita tunjukkan juga bukti pencairan/bayaran yang kita dapat sambil dibumbui candaan. "Dari artikel-artikel yang saya tulis, karena banyak pembaca, akhirnya ada orang yang pasang iklan di blog saya, nah ini bayarannya.." (walaupun iklan di postingan blog sudah muncul otomatis oleh Google Adsense, kita harus menggunakan 'bahasa' yang lebih mudah dipahami orang awam)

Mana tahu kan, ada tetangga yang minta dipromosiin juga usahanya. Seperti teman saya sebut saja Si Tayo. Dia sedia jasa rental mobil terus minta dipromoin. Alhasil setelah dia dapat customer yang menghubungi lewat WA dengan memakai pesan otomatis yang saya pasang di link, dia tahu itu customer dari saya, dia ngasih bonus deh.. Kan sama-sama untung.

Apabila cara yang pertama ini kurang efektif, maka solusinya menggunakan alibi!

2. Membuat Alibi, Seperti Loket Pembayaran Atau Toko Kecil




Kalau kita punya bisnis, kita pun harus terlihat seperti sedang bekerja di depan mereka. Kurang lebih seperti pencintraan. Ibarat saya punya online shop, dengan memiliki stock barang bertumpuk, karyawan yang mengepak pesanan satu per satu kemudian mobil JNE yang jemput paketan, mereka sedikit demi sedikit paham kalau saya dapat penghasilan dari jual-beli online. Apalagi kalau ada etalase yang memajang barang-barang jualan, disertai banner produk, terjawablah sudah apa usaha kita. Walaupun sedikit kemungkinan tetangga menaruh minat, tetapi pencintraan ini penting lho untuk menegaskan kita bekerja cari uang halal.

Itu sih kalau sudah jadi online shop besar ya, gimana kalau penjualan naik turun, stock terbatas, ngepak paket dan ngirim ke JNE sendiri? Coba aja buka loket pembayaran.

Tujuan awalnya sih supaya saya gak perlu pergi ke ATM untuk mendapatkan uang tunai. Bolak-balik ATM panas, makan bensin, belum parkir. Dengan membantu membayarkan tagihan listrik tetangga, saya cuma perlu mengeprint bukti pembayaran untuk mengkonversi uang di rekening menjadi uang tunai. Karena tetangga sudah tahu dan melihat saya "bekerja", maka saya pun bisa ngeblog dengan tenang..

Masih banyak alibi-alibi lain yang bisa kamu gunakan. Intinya sih kamu harus terlihat "bekerja" di depan mereka, supaya mereka tahu kamu cari uang halal. Walau terdengar agak nyeleneh tapi jika bertujuan positif demi passion ngeblog, gak ada salahnya, kan?

3. Terakhir, Jika Malas Interaksi Atau Bikin Alibi, Bodo Amat!




Tidak semua orang memiliki kepribadian ekstrovert. Ada orang-orang introvert yang memilih bekerja dari rumah karena tidak nyaman dengan suasana kantor. Tapi jangan salah! Bekerja dari rumah itu mendongkrak produktifitas, lho. Kamu jadi bisa mengurangi pengeluaran transportasi, bekerja lebih efisien mengikuti kondisi fisik, dan mendapat tidur lebih berkualitas! Kalau kamu tidak memedulikan penilaian orang-orang awam yang memandang rendah status blogger/freelancer, ya biarkan saja.

Saya sendiri bingung sih, masuk ke kategori yang mana. Saya bekerja di rumah karena bagi saya kantor itu penuh drama. Dari mulai atasan yang sengaja atau tidak menumpahkan kekesalan pada bawahan, sampai persaingan antar pekerja yang tidak sportif pasti ada selalu ada. Tapi ada satu waktu dimana saya menyempatkan diri untuk bergaul dan saya mendapati diri saya benar-benar aktif, apalagi kalau sudah ngobrol sama teman, gak ada rahasia.. Hahaha

Wednesday, April 10, 2019

Ke Tasikmalaya Jangan Lupa Cicipi 4 Makanan Khas Korea Ini

5:58 PM 18 Comments


Kacau deh, gara-gara sebagian domain gak diperpanjang jadi banyak banget broken link padahal dari komentar aja udah banyak yang broken link pasca penghapusan Google+. Tapi benar gak sih kalau komentatornya kebetulan aktif ngeblog dan keburu ganti ke Profil Blogger bawaan, gak jadi broken link lagi? Mohon pencerahannya..

Daripada mikirin kesehatan blog terus bikin laper, mending kita bahas makanan aja yuk! Saya hobi nonton drama korea alias drakor di waktu-waktu senggang, bagi saya Drama Korea itu kreatif, sekalipun ide ceritanya sederhana tapi bisa mereka kembangkan menjadi alur yang menghanyutkan penonton ke dalam cerita. Ditambah lagi drakor-drakor ngetop selalu memperlihatkan menu-menu makanan khas Korea yang menggoda iman maka saya pun tergoda mencicipi. 

Di Tasikmalaya ada resto-resto yang menyediakan khusus makanan Korea, suatu keajaiban di kota saya bisa ada yang begini mengingat saya tinggal di kota kecil. Mungkin karena bisnis kuliner sangat laku, bahkan ada yang namanya event "Mambo Culinary Night" dimana setiap Sabtu Malam semua pedagang makanan mulai kaki lima sampai pemilik resto menyewa stand di sepanjang Jalan Mayor Utarya, Kel. Empangsari, Kec. Tawang, Kota Tasikmalaya, Prov. Jawa Barat 46113.

Bagi saya yang suka makan ini tentu kehadiran event tersebut adalah surga! Apalagi saya punya metabolisme tinggi, saya tidak bisa gemuk meski sudah banyak makan. Apa aja sih makanan khas Korea yang saya temukan? Yuk kita bahas satu per satu!

1. Rabbokki, Perpaduan Ramyeon dan Teokbokki




Teokbokki (orang Sunda sebut "topoki"), adalah kue beras khas Korea yang dibuat dengan cara menggiling beras menjadi bubuk tepung lalu dibuat adonan menyerupai bentuk sosis. Ada yang membuatnya langsung dari tepung beras, ada pula yang melalui banyak proses merendam berasnya terlebih dulu sebelum digiling. Yah beda-beda sih penyajiannya, kalau saya cuma tahu makan.

Orang Korea senang memasak Teokbokki dengan pasta cabai fermentasi yang dinamakan "Gochujang". Nah Gochujang inilah yang memberi warna merah semerah-merahnya pada hasil akhir masakan, udah begitu dipadu rasa pedas dan asam yang unik. Tinggal dibanyakin kuahnya, tambahin mie instan atau ramyeon, maka jadilah Rabokki. 

Alasan suka makanan ini: Pedas, Asam, Kenyal, Ada Mie. Bisa jadi karena Gochujang yang menjodohkan teokbokki dengan ramyeon sehingga mereka tidak boleh berpisah! Sayangnya menu ini dibuat dalam porsi terbatas karena memerlukan banyak tahap dalam pembuatannya, sehingga apabila kamu ingin memesan rabokki saya sarankan membuat reservasi terlebih dulu sebelum datang ke tempat.

Rabokki ini saya dapat dari Takara Kitchen, lokasi resto beralamat di Jl. Paseh No. 8, Nagarawangi, Cihideung, Tuguraja, Cihideung, Tasikmalaya, Jawa Barat 46124. 

2. Tom Yum Ramen, Masakan Korea Rasa Thailand




Setiap resto Korea pasti dong menyediakan menu andalan mi ramen. Nah di Takara Kitchen ini, ada menu ramen yang diberi nama Tom Yum, jadinya mi ramen ini ala ala masakan Thailand namun masih ada sentuhan Korea-nya. Saya paling suka ramen ini karena asam pedasnya lebih kuat, apalagi ditambah irisan tomat dan aroma jeruk nipis, mantap dah! 

Siapa bilang makanan itu cuma bisa bikin kenyang? Bagi saya makanan itu adalah pelepas stress. Gak ada tuh istilah galau-galau dalam keseharian saya asalkan bisa makan enak! Hahaha. Saya gak bisa berkata apa-apa lagi deh pokoknya kalau ramen ya sikat aja cuman gak mau nyobain rasa lain karena sudah ketagihan sama si Tom Yum.

3. Bibimbap, Korean Monster



Menu kali ini tidak bisa ditemukan di event Mambo Culinary Night tapi harus datang langsung ke tempatnya. Korean Monster ada di foodcourt lantai 1 Asia Plaza, Jl. K. H. Z. Mustofa No.326, Tugujaya, Cihideung, Tasikmalaya, Jawa Barat 46126. Menu yang paling saya sukai adalah Bibimpap atau kalau kata Teh Sumar AE ini teh "Lotekna Urang Korea" karena seperti masakan Sunda yang mencampur adukkan sayuran dengan tauge.

Awalnya saya tidak terlalu suka dengan telur setengah matang. Tapi setelah mencoba menu ini jadi suka banget bahkan sampai bikin sendiri di rumah! Bahan utamanya masih nasi. Cuman di atasnya itu ada irisan wortel, zukini alias mentimun Itali, tauge, irisan daging, dan terakhir telur ceplok setengah matang yang ditaburi sedikit gochugaru. 

Bagi yang belum tahu, gochugaru ini fermentasi cabai yang berupa bubuk halus dan kasar. Kalau di kita hampir sama seperti bumbu Aida atau Bon Cabe mungkin, ya? Hahaha

Sewaktu pesan Bibimpap saya dapet dua macam saus: gochujang dan saus cabai biasa. Walaupun saya suka rabokki tapi tetap aja kok rasanya aneh kalau dimakan langsung. Mungkin karena gochujang pada rabokki sudah menyatu dengan rempah-rempah lain maka rasa asamnya itu masih bisa ditoleransi oleh lidah saya, berbeda halnya kalau saya makan gochujang langsung. Apalagi gochujang dari setiap resto bisa beda-beda. 

4. Bakar-bakar Daging Di Gangnam



Level tertinggi dalam masakan Korea adalah memanggang daging. Agak bingung juga ya kenapa di setiap meja udah ada panggangan dan pengunjung memanggang daging sendiri, apa gak takut gosong ya? Mungkin itu sudah budaya orang Korea dan bagi mereka ada kepuasan tersendiri ketika berkumpul dan memanggang daging bersama. 

Saya punya kesempatan berkunjung ke Gangnam itu sewaktu teman SMP saya Witri pulang dari Jakarta. Menurut dia harga di Tasik itu murah kalau dibandingkan dengan harga menu makanan di Jakarta, tapi ya tetap saja kan ujungnya juga habis 100 ribuan untuk dua orang. Nanti juga dikasih gratis kimchi sebagai pendamping, masih menurut Teh Sumar ya kimchi itu sebutan "Acarnya Abang Lee Min Ho". Karena kimchi berbahan dasar lobak dan sawi.

Gangnam ini masih berlokasi di Asia Plaza cuman jajaran komplek ruko, nggak di dalam mall. Jadi kalau dari pintu masuk sebelum masuk mall itu pasti udah ketemu si Gangnam.

Menurut kamu yang mana nih yang paling bikin penasaran? Atau gak ada satu pun yang bikin penasaran hahaha sharing dong di komentar!

Thursday, March 28, 2019

Pengalaman Bekerja di Perusahaan Penipu

3:57 PM 6 Comments

Kali ini saya mau menceritakan pengalaman bekerja di bulan Februari 2019 kemarin. Awalnya saya tidak tahu bahwa perusahaan tersebut adalah penipu, karena mereka punya outlet, mereka juga menjalankan produksi. Jika memang mereka menipu orang, seharusnya mereka sudah gulung tikar karena dilaporkan. Tetapi anehnya, walaupun sudah banyak korban, perusahaan mereka masih berjalan sampai sekarang. Nama perusahaan dan oknum-oknum yang terlibat saya rahasiakan untuk menghindari tuduhan "pencemaran nama baik". Saya juga menulis objektif tanpa menambahkan pendapat saya secara pribadi, biarlah pembaca yang menilai sendiri.

Jadi saya sudah mencapai titik jenuh dimana saya malas melanjutkan kegiatan online shop. Sejak kepindahan saya yang kedua, saya tidak punya karyawan dan ART, sehingga semuanya dikerjakan berdua dengan suami. Walaupun penghasilan kami terbilang cukup untuk biaya hidup sehari-hari, tapi akhirnya saya bosan juga menjadi ibu penuh waktu. Saya yang semula bekerja full time di depan komputer dan hanya menjaga anak di malam hari saja, tiba-tiba berubah drastis menjadi tidak bisa menyentuh komputer sama sekali.

Sebelum Mulai Bekerja, Saya Tanya "Benarkah Kalian Penipu?"


Saya percaya bahwa yang namanya peluang kerja itu pasti ada asalkan kita mencari dengan sungguh-sungguh. Ternyata saya menemukan dua lowongan. Pertama, di minimarket dekat rumah yang hanya perlu ditempuh dengan berjalan kaki. Kedua, di sebuah perusahaan yang ditempuh dengan motor selama 15 menit. Karena peluang yang kedua menawarkan gaji lebih besar maka saya ambil.

Sebelum memutuskan bekerja di perusahaan itu, saya mencari informasi sebanyak mungkin di internet. Saya sempat ragu dengan kredibilitas perusahaan tersebut, karena ada sebuah halaman facebook yang menjuluki mereka penipu, orang-orang yang mengaku sebagai korban juga tidak sedikit. Kemudian saat mulai training, saya meminta konfirmasi kepada pihak management mengapa bisa ada berita seperti itu di facebook.

Jawabannya, mereka mengatakan bahwa itu adalah kesalahan karyawan di masa lalu dan saat ini mereka sedang membenahi diri untuk memperbaiki reputasi. Karena saya pikir mereka tidak berniat menipu, selalu menerapkan nilai-nilai agama yaitu shalat tepat waktu dan mengaji setiap hari, jadi saya berharap bahwa berita yang mengatakan mereka penipu itu hanya sebatas masa lalu.

Saya pun mulai bekerja sesuai prosedur, saat itu saya menempati jabatan Customer Service Online (CSO), yang kerjanya membalas pesan di Whatsapp dan Halaman Facebook. Semua balasan harus memakai kata-kata yang sama persis, 90% memakai auto text. Setiap CSO diberi inventaris berupa smartphone dan laptop, tetapi dengan syarat penahanan ijazah. Menurut UU Ketenagakerjaan tidak disebutkan bahwa perusahaan boleh menahan dokumen pribadi milik pekerja, tetapi saya oke-oke aja mungkin mereka takut barang inventaris dibawa kabur sehingga butuh jaminan.

Kejanggalan Ditemukan: Komentar Negatif, Keluhan, Hingga Ancaman Lapor Polisi


Saya mulai merasa janggal ketika di halaman yang saya kelola banyak komentar-komentar negatif bermunculan. Isinya itu ya caci-maki dari orang-orang yang mengaku korban, mereka melampirkan bukti transfer dan merasa kecewa karena tidak kunjung menerima barang. Ada yang baru beberapa hari dari tanggal transfer, ada juga yang sudah berbulan-bulan. Bukan sekali dua kali saya membaca pesan yang berisi ancaman lapor ke polisi.

Leader saya saat itu di Tim CSO, bukanlah orang yang bisa diajak kompromi. Dia mengatakan bahwa semua komentar-komentar negatif harus segera dihapus, chat Whatsapp yang berisi keluhan "belum terima barang" jangan dibalas, saya hanya perlu fokus pada melakukan closing dan closing. Mengapa semua komentar negatif harus dihapus kalau tidak berniat menipu? Lalu, mengapa semua keluhan tidak ditanggapi dengan benar kalau memang jujur?

Selain itu, saya juga mengakses data-data mereka di tahun 2018. Masih banyak orderan yang belum terproses, masih banyak orang-orang yang belum menerima pesanan mereka karena hanya sedikit pelanggan yang menerima bukti pengeriman resi. Jadi, inikah yang mereka sebut membenahi diri? Lalu mengapa sampai sekarang pendingan order terus menumpuk, dan mereka seolah menutup mata kepada siapa pun yang merongrong meminta uang kembali?

Gaji Tak Dibayar, Uang Makan Pun Tak Cukup!


Saya merasa bahwa apa yang saya lakukan itu salah. Ada total 10 customer yang saya layani belum menerima bukti pengiriman. Itu baru customer saya lho, belum lagi CSO-CSO yang lain. Saya sudah mendaruratkan pesanan dari customer-customer saya ke tim gudang, tetapi mereka lempar ke management, dan begitulah seterusnya mereka main lempar-lemparan. Bahkan Tim Analis menilai bahwa kinerja saya kurang serius karena terlalu terpaku pada keluhan pelanggan, mereka bilang sebagai CSO saya tidak boleh mengurusi hal-hal seperti itu dan fokus saja pada closing. Saya masih punya hati nurani, dan tidak ada satu pun orang di kantor itu yang mengasihani para korban. Karena saya tahu bahwa mencari uang disini bukan jalan yang benar, saya mulai merencanakan resign.

Di awal bulan Maret 2019, mereka mengumumkan bahwa gaji karyawan akan ditunda selama tiga bulan. Bagi saya yang sudah menikah, punya beban tanggungan, tagihan, dll penundaan gaji itu memberatkan saya dan tidak sesuai kesepakatan awal karena tidak ada dalam isi kontrak. Jadi setelah berpikir matang-matang, saya menyerahkan surat pengunduran diri. Saya juga minta kejelasan soal gaji saya yang sudah bekerja selama bulan Februari 2019, tetapi mereka tidak sanggup membayar gaji sesuai kontrak, mereka hanya memberi uang makan dengan hitungan 6.000 per hari. Ini bahkan bukan jumlah yang cukup untuk "makan dengan benar", tetapi karena saya tidak mau punya urusan lagi di kantor itu maka saya terima tanpa protes, ambil ijazah lalu pergi.

Kalau dibilang rugi sih sejujurnya iya. Adakalanya saya tidak membawa bekal sehingga harus makan di luar yang menghabiskan 7.000 hingga 15.000 dalam sehari. Walaupun di dalam kontrak saya bekerja 8 jam per hari, kenyataannya saya harus membalas chat di luar jam kerja sebagai resiko CSO yang belum mencapai target closing 10 pcs baju per hari. Leader saya menekankan bahwa pekerjaan ini terbilang enteng dibanding pekerjaan di tempat lain, namun dia salah. Semua pekerjaan itu enteng jika hati kita sudah berada di dalamnya.

Bos saya dulu, orangnya keras dan sangat disiplin. Dia membayar gaji tepat waktu, bahkan dia juga memberi uang lembur dengan bayaran yang pantas. Itulah sebabnya saat mulai wirausaha, saya meniru dia, membayar gaji karyawan tepat waktu. Kalaupun keuangan saya sedang kurang stabil, minimal saya bayar setengahnya dulu di tanggal 1 sambil meminta maaf dan menentukan tanggal pembayaran sisanya. Saya tahu bahwa karyawan itu sangat menunggu-nunggu waktu gajian.

Keluarga dan teman-teman yang mengetahui pengalaman saya bekerja disana, semua menyarankan saya untuk berkonsultasi ke firma hukum agar perusahaan tersebut dituntut atas dasar penipuan (tidak mengirimkan barang pembeli) dan kelalaian (tidak membayar gaji). Tapi bukannya saya tidak mau, hanya saja saya tidak tega kalau sampai menuntutnya.

Memang Ya, Sekecil Apa Pun Usaha Itu Lebih Enak Ketimbang Kerja di Orang


Kesimpulannya, saya mengambil pelajaran bahwa perusahaan/orang yang reputasinya sudah tercoreng sebaiknya jangan dipercaya. Saya menganggap bekerja sebulan disana sebagai observasi/ganti suasana untuk saya yang jenuh dengan rutinitas rumah, namun ada hal-hal baru yang saya pelajari dan pastinya bersifat positif untuk diterapkan pada online shop milik sendiri. Saya masih berhubungan baik dengan peluang pekerjaan yang pertama, namun saya mulai menikmati asyiknya bekerja di rumah sendiri. 

Friday, January 4, 2019

Susahnya Menulis Fiksi

5:30 PM 2 Comments

Belakangan saya sempat frustasi gara-gara e-commerce. Gimana nggak, sekarang iklan marketplace ada dimana-mana, sampai masuk televisi. Dropshipper dan online shop yang cuma mengandalkan transaksi di luar marketplace semakin tersisihkan karena marketplace berlomba-lomba memperbarui aplikasi mereka menjadi semakin mudah diakses oleh pengguna yang gaptek. Sedangkan harga pasar itu kalau sudah ramai di marketplace, otomatis akan jatuh, penjual bontang banting harga serendah-rendahnya demi menggaet pelanggan.

Saya masih bertahan mempromosikan brand ini, karena memang produknya berpotensi mendatangkan repeat order. Jika seandainya saya bisa menemukan brand lain yang cocok, kemungkinan saya akan pindah. 

Lalu, ketika kebutuhan rumah tangga menuntut terus dibiayai sementara yang namanya bisnis itu mengalami pasang surut, saya mulai berpikir untuk menjual tulisan saya. 

Pertama, saya mencari peluang menjadi freelancer. Sialnya, saya gak bisa bikin portofolio yang menarik. Apa yang bisa dipamerkan dari saya kalau selama bertahun-tahun ke belakang saya sibuk berbisnis online? Saya sudah tak memiliki karyawan satu pun, proyek-proyek yang pernah saya kerjakan pun tidak ada blueprint-nya. 

Daripada menghabiskan waktu mikirin portofolio, lalu saya berkata, "Bodo amat!" 



"Saya bisa menulis, saya ingin menjual tulisan saya."

Kemudian saya mencari peluang menulis di media online. Saya mendaftar ke Creator Brilio. Proses mendaftar juga sangat mudah, tinggal mengisi formulir, sudah bisa langsung bikin content. Di awal-awal menulis, saya tidak terlalu memikirkan bayaran karena saya senang ada wadah yang bisa menampung tulisan saya tentang drama-drama Korea. Beda sensasinya dengan saya menulis di blog sendiri. Kadang begitu di-publish disana, penayangan langsung banyak. 

Inilah salah satu artikel saya yang pernah masuk Top Creator Brilio: Makna pernikahan ini bisa kamu pelajari dari K-Drama Go Back Couple

Setiap artikel yang kita kirim akan diseleksi oleh tim editorial kemudian jika disetujui akan terbit di https://www.brilio.net/creator/. Jika lolos ke halaman utama, artikel akan diberi reward berupa uang tunai sejumlah 200.000 per artikel sebelum dipotong pajak. Bagi kamu yang tertarik ikutan nulis, disarankan mencantumkan rekening BCA agar proses pencairan jadi lebih cepat. Untuk pembayaran pun diterima setiap akhir bulan. 

Akhirnya merasakan juga gajian..
Kurang lengkap rasanya kalau hobi menulis tidak menghasilkan cerita. Sedari kecil, saya berangan-angan ingin cepat dewasa agar bisa berimajinasi tanpa batas dan menuliskan cerita-cerita. Tetapi saat usia saya tepat 26 tahun di bulan Januari ini, saya malah menahan-nahan diri dengan kalimat, "Berhenti berkhayal dan hadapi kenyataan." 

Kenapa saya menghentikan imajinasi yang sedang liar-liarnya untuk terus menulis tentang produk, kata-kata promosi, membalas satu demi satu pesan dengan kalimat profesional, demi reputasi toko. Dan semua itu, demi bertahan hidup! Inilah alasan kenapa karya fiksi menjadi sangat mahal, karena banyak orang menyerah atas imajinasi mereka dan memilih pekerjaan yang sekiranya menghasilkan uang lebih cepat. Padahal di saat yang sama, seorang penulis seharusnya mempercayakan promosi pada orang yang berkeahlian di bidang itu. 

Tulisan terpanjang yang pernah saya buat adalah naskah film pendek berdurasi 45 menit. Itupun karena saya mampu mengetik dengan cepat, bukan karena saya pandai merangkai kata. Dulu saya pernah belajar Teknik Penyiaran dan disana saya tahu dasar-dasar membuat naskah. Tetapi, yang saya temukan hanyalah bahasa-bahasa sinematografi yang hanya dimengerti oleh orang-orang produksi. Apalagi proyek naskah yang saya kerjakan mayoritas hanya mengembangkan ide client, membuatkan dialog, mengurutkan adegan, bukan lahir dari imajinasi saya sendiri. 


Saya juga sebenarnya ingin sekali membuat karya fiksi, tetapi yang saya alami ketika sedang menulis, imajinasi saya malah buntu! Kemana sosok anak kecil yang tidak berhenti berkhayal? Sebelum ia lenyap, saya akan menjual segalanya demi menemukan dia. Saya ingin membuat karya fiksi yang bisa dinikmati oleh banyak orang, bukan hanya orang-orang poduksi saja, tetapi semua pembaca. Terutama genre dewasa. Hahaha.