Saturday, November 3, 2018

Mengenal Teori Kuantum Melalui Ant Man and The Wasp


Saya mencoba mendisiplinkan diri dengan jadwal posting berdasarkan tema. Masalahnya adalah, saya tidak posting setiap hari bukan karena kekurangan bahan, tetapi karena blog saya tidak memiliki tema. Setelah blogwalking kesana kemari akhirnya saya pun tahu bahwa tema-tema pada blog itu sebenarnya membantu blogger dalam mengelola ide dan tulisan. Oleh karena itu, setiap Sabtu saya akan memposting review tentang film/drama/acara yang saya tonton. 

Saya belum pernah nonton film Ant Man (2015), tapi harus saya akui bahwa film-film superhero produksi Marvel Studios tidak ada yang gagal! Sama seperti halnya dengan Ant Man and The Wasp (2018), dimana pengenalan tokoh dan pengemasan alur cerita dibikin sedemikian apik sampai ke tiap detil-detilnya kepalang bukan main seru banget. 



Sepasang suami istri, Janet Van Dyne (Michelle Pfeiffer) dan Hank Pym (Micheal Douglas), yang juga merupakan sepasang superhero berkekuatan berubah bentuk dengan skala tertentu. Mereka memakai kostum mirip semut, cepat dan gesit. Pada suatu ketika, mereka berdua sedang berusaha menaklukan roket yang bisa membahayakan ribuan nyawa. Lapisan roket tersebut terlalu tebal untuk ditembus. Satu-satunya cara menaklukan roket adalah dengan mengecil seukuran atom agar bisa menembus ke dalam. Tetapi, regulator pada kostum Hank rusak sehingga Janetlah yang mengubah bentuk dirinya menjadi sekecil atom. Roket dapat ditaklukan, tetapi Janet menghilang, masuk ke alam kuantum. 

Bagi saya yang tidak mengerti Teori Kuantum dan ilmu-ilmu Fisika lainnya, saya hanya menonton saja dan menikmati film. Namun unsur-unsur ilmiah yang disampaikan oleh film lumayan bisa dicerna oleh saya, tidak perasaan harus berpikir keras seperti saat sekolah. 

Scott Lang (Paul Rudd), rekan kerja yang direkrut oleh Hank, mendapatkan mimpi petunjuk tentang keberadaan Janet. Kemudian anak perempuan Hank, yaitu Hope Van Dyne (Evangeline Lily), menculik Scott dari rumahnya yang saat itu sedang dalam masa tahanan. Hank dan Hope menempatkan seekor semut raksasa yang diprogram meniru kegiatan Scott sehari-hari di rumah, sehingga alat pelacak dari FBI yang dipasang pada kaki mengira bahwa Scott tidak pernah keluar rumah. Harapannya tentu agar Scott bisa membantu mereka menjemput Janet setelah bertahun-tahun hilang. 

Disini Scott ditugaskan untuk menemani Hope untuk mendapatkan komponen terakhir sebagai pembangkit terowongan yang menghubungkan lab milik Hank ke alam kuantum. Lab itu sendiri merupakan bangunan tinggi yang dapat dikecilkan menjadi seukuran koper, selain itu ada mobil-mobil mainan yang ternyata berubah menjadi mobil sungguhan. Yang menarik dari lab itu ialah, bisa dikecilkan dan dibawa kemana-mana, lalu bisa dibesarkan di tempat yang luas. Gak kebayang gimana proses syutingnya, karena lab tersebut seolah ada dan hilang dari beberapa tempat. 

Kalau lihat Scott, dia ini ceritanya duda beranak satu. Anak perempuan Scott, yaitu Cassie Lang (Abby Ryder Fortson), diasuh oleh saudara perempuan Scott yaitu Maggie Lang (Judy Greer)selama Scott menjalani tugas-tugasnya sebagai Ant Man. Jadi biarpun duda, Scott tetap saja terlihat keren dengan segudang kelebihan-kelebihannya. Dia melakukan banyak hobi walau berstatus tahanan rumah, seperti main drum, karaoke, belajar trik sulap. Gak seperti bujangan-bujangan lapuk yang bisanya cuma tidur di rumah, main game, dan tidak mengasah skill. Pantas saja Scott bisa pacaran dengan si seksi Hope. 


Hope dan Scott saat menjadi Ant Man.


Hope sebenarnya tipe ideal hampir semua pria. Dia masih single, belum menikah. Dia pintar karena menurun dari orang tuanya yang ilmuwan. Dia tangguh, sanggup mengalahkan beberapa penjahat sekaligus. Dan dia juga tidak pernah mengeluh dalam situasi tersulit sekalipun. Tetapi entah kenapa saya lebih suka Ava, atau yang dikenal sebagai Ghost. Ava (Hannah John-Kamen) sedari kecil mengidap kelainan yang disebut Anomali Kuantum. Ava menderita akibat kecelakaan dari eksperimen yang gagal. Namun orang-orang tertentu memperalat Ava untuk mencuri, menjadi mata-mata dan membunuh orang dengan imbalan kesembuhan. Mereka memberi Ava sebuah kostum yang dapat mengendalikan 'kelainan' pada Ava seperti menjadi tak terlihat dan terlihat oleh mata manusia. Ava digambarkan seorang wanita berkulit coklat, dengan rambut bergelombang, bibir tebal dan mata jernih. Bagi saya, Ava itu sangat cantik. 


Hannah John-Kamen, pemeran Ava/Ghost.


Sementara Janet, yang bertahun-tahun tersesat di alam kuantum sendirian, dia berevolusi. Petunjuk yang ia taruh di alam bawah sadar Scott ternyata bekerja seperti antena semut, dimana satu semut bertemu semut yang lain, mereka bertukar informasi. Dari Scott, lalu ke Hope, lalu ke Ava, dan kembali ke Hank semuanya bikin penonton terkaget-kaget dengan gumaman, "Oh, oh, jadi gitu.." seolah penonton adalah murid yang berhasil paham dari penjelasan guru. Janet memang berhasil kembali, tetapi saat Scott mengumpulkan molekul-molekul penyembuh Ava, giliran Scott yang tertinggal di alam kuantum. Sedangkan Janet, Hank, dan Hope berubah jadi debu. 

Menurut artikel-artikel lain yang saya baca, pada point ini dapat menghubungkan cerita ke film berikutnya, The Avenger: Infinity War. Tapi saya tidak menemukan keterkaitan antara kedua film tersebut, entah karena tidak konsen gara-gara pas nonton Infinity War di bioskop dapat tempat duduk paling depan, jadi pegel kan mendongak terus. Ya udahlah, biar saya download aja filmnya, biar dapat bahan posting juga Sabtu depan.

10 comments:

  1. Ant Man agak kurang gereget sih Mbak hehhe. Tapi kalau civil war Keren banget, Saya suka Mbak. Udah nonton film searching Mbak ?, Review dong hehhehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengen sih nonton Civil War, soalnya itu keluaran Marvel juga so pasti bakal seru! Makasih ya udah komen dan berkunjung. :)

      Delete
  2. interesting.... menarik cara menulis review-nya

    ReplyDelete
  3. Ngga tau kenapa kalo saya ngga begitu suka film-film action :(
    Udah coba nonton sepenuh hati, ujung-ujungnya aku malah tidur.
    Gimana ya solusinya mba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak usah dipaksain mbak kalau emang nggak suka, karena selera orang beda-beda apalagi dalam memilih tontonan :)

      Delete
  4. setuju deh sama pendapat sampean. kalo superhero besutan marvel eman fresh. suka iron man yg menggabungkan efek cgi-nya itu. spiderman, dan flashman. btw, aku blm pernah liat full film flashman, sih. he he.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga belum nonton Flashman, tapi Iron Man dan Spiderman versi Marvel keren banget. Setau saya Iron Man yang pendiri The Avenger, sedangkan Spiderman Home-comming image-nya superhero buat anak muda banget gitu, haha :D

      Delete
  5. gak ngerti.. saya sudah tanyakan kepada teman saya yang anak fisikan dan dia bilang katanya emang bisa secara teori. entahlah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pun tidak begitu paham dengan ilmu fisika, namun saya hanya menikmati sebagai penonton. Terimakasih kunjungannya, Mas Rafi. :)

      Delete

Boleh OOT asal jangan ninggalin link hidup ya. Terimakasih kunjungannya :)