Friday, September 22, 2017

Selamat Tinggal, Rafa!


Belum genap tiga bulan, karyawan saya satu-satunya yaitu +rafa nurfani fiandara mengundurkan diri dengan alasan mau pindah ke Bantul, Yogyakarta. Saya tidak bisa menahan-nahan walaupun sebenarnya saya juga keberatan melepas karyawan yang bahkan belum matang. Baru satu bulan pertama, saya ajari dia cara membalas pesan, mentotalkan orderan, melayani pemesanan, tanya-tanya produk sampai belajar bikin artikel. Bulan berikutnya, setelah dia mulai lancar bekerja tanpa harus ditemani saya lagi, saya pikir saya sudah bisa mengandalkan dia dalam mengurus pemesanan agar saya bisa kembali membuat review. Namun ternyata nasib berkehendak lain.

Siapa sih, Rafa?

Rafa adalah lulusan SMK Bakti Kencana yang menjurus ke bidang farmasi, saya lupa dia dulu jurusan apa. Namun mengingat Rafa punya pengetahuan dasar seputar farmasi saya jadi merasa cocok padahal saya tidak menetapkan kriteria khusus dalam mencari pekerja karena bisnis saya masih belum terlalu besar. Dia lumayan lancar mengetik di komputer meski terkadang masih ada kesalahan eja, dia ramah kepada konsumen yang rewel, dia juga menghormati atasan. Baca juga kisah perekrutan Rafa disini: Merektrut Karyawan (Lagi)

Kalau diibaratkan, hubungan saya dan Rafa itu kurang lebih seperti Sunny dan Ji Eun Tak di drama korea Goblin. Sunny yang punya restoran ayam sepi hanya bisa melamun dan makan cemilan, sedangkan Ji Eun Tak si karyawan magang selalu menurut saja dengan apa pun yang disuruh atasannya.

Curi-curi Waktu di Jam Kerja

Pernah suatu ketika Rafa kepergok buka-buka handphone saat Hendri datang, kemudian Rafa langsung menyimpan handphone-nya dan kembali bekerja. Memang perilaku curi-curi waktu di jam kerja bukan hal positif, tetapi ketika dia menyimpan handphone dan kembali bekerja, itu menunjukkan kalau dia masih punya rasa segan pada atasan. Walaupun Hendri dan saya masih belum layak disebut 'bos' jika dilihat dari omzet. Berbeda sekali dengan ex-karyawan Ai Wida, mau ada atasan atau tidak, dia selalu asyik sendiri menonton video di Youtube walau sudah berkali-kali ditegur.


Minat dan Perilaku

Terus, saya periksa cache browser bekas pemakaian Rafa. Dia sepertinya punya selera yang mirip dengan saya seperti melihat-lihat make up dan pernak-pernik Korea. Dia masih awam seputar kosmetik, sederhana, dan punya kemampuan komunikasi yang baik. Jadi ketika ada sesuatu yang mengganjal, dia mencari waktu yang tepat untuk mengutarakan permasalahan secara baik-baik. Untuk ukuran wanita yang lebih muda dari saya, dia tahu bagaimana menyampaikan sesuatu supaya enak didengar.


Perkiraan dalam Beberapa Bulan ke Depan

Dari awal merekrut, saya memang sudah memperkirakan Rafa bekerja di saya tidak akan lama, karena pertama dia mau kerja di saya walaupun gaji kecil. Saya cuma mampu bayar dia 700 per bulan, Rafa pun tidak keberatan karena ijazah terakhirnya masih belum bisa diambil, mungkin dia pikir masih lebih baik daripada tidak punya kegiatan di rumah. Kalau cowok biasanya selalu cari gaji UMR minimal 1,5 juta giliran gak dapet-dapet ujungnya menganggur.

Kedua, Rafa lulusan SMK Farmasi. Peluangnya bisa kerja di apotek, klinik, puskesmas, bahkan rumah sakit dengan gaji yang lebih besar.

Ketiga, setelah habis masa kontrakan, saya sekeluarga mau pindah. Kalau saya pindah, kemungkinan Rafa melanjutkan kerja di saya sangat kecil, kecuali jika saya sanggup menaikkan gaji. Saya, Hendri, dan Raisa akan pindah ke tempat mertua dimana kami membangun rumah disana. Mohon doanya, ya, teman-teman, semoga dilancarkan segala sesuatunya.


Pengalaman Buruk dengan ex Karyawan

Sewaktu Ai Wida digaji 1 juta, sepertinya uang segitu terasa kurang bagi dia. Dia punya setoran motor 700 ribu, dia punya gaya hidup konsumtif seperti mengamati fashion, sering bolos untuk liburan, ke bioskop, kuliner, dan bergonta-ganti kosmetik. Memang sih untuk wanita usia 20-an hal-hal seperti itu sangat familiar tetapi jika tidak bisa diimbangi dengan penghasilan ujungnya malah merugikan diri sendiri. Dia tidak punya tabungan dan entah bagaimana selama ini dia bisa makan. Dia menipu saya dengan meminta bagi hasil dari penjualan yang bukan miliknya, dan setelah menerima transferan, dia menghilang. Dia sempat mengakui kesalahannya dan bersedia membayar ganti rugi, tetapi keesokan harinya dia men-delete saya di bbm, memblokir saya dan Hendri di facebook, dan sejak itu dia tidak pernah menampakkan muka. Saya tidak terlalu mengharapkan uang itu kembali, Allah Maha Mengetahui, biarlah Allah yang mengganti kerugian saya dengan harta yang lebih besar.

Dan memang benar, saya mendapatkan Rafa sebagai gantinya, yang bernilai jauh lebih berharga dari siapa saja yang pernah saya rekrut.


Pesan Terakhir untuk Rafa

Saya sudah merasa sangat terbantu sekali dengan keberadaan Rafa, maka di hari pengunduruan dirinya, saya membuatkan Surat Pengalaman Kerja. Isinya menyatakan bahwa selama masa bakti kerjanya Rafa tidak pernah berbuat sesuatu yang merugikan perusahaan. Mudah-mudahan dengan berbekal dokumen itu dia bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dan sesuai dengan keahliannya. Pesan dari saya sebagai orang yang tahu bagaimana kualitas kerja Rafa, jangan lupa makan, ya! Sering-sering pesen Go-Food kalau makanan di rumah atau di kantor gak ada yang enak! Ajak Fahmi kerja juga, biar gak keseringan nge-WA di jam kerja!

Monday, September 18, 2017

Menemukan Kacamata yang Tepat


Sewaktu masih jomblo kira-kira masih 18 tahun itu saya sudah punya keinginan periksa mata. Pertama, karena saya suka membaca dan menulis. Kedua, saya mendapat pekerjaan yang mengharuskan saya duduk di depan komputer setiap hari. Ketiga, saya lihat ada cowok di sekolah terlihat keren pakai kacamata. Sebutlah dia si Deden, si Rubi, astaga.. Bukannya malah keliatan culun?! Ya intinya biar saya rada keren gitu. Toh suami saya Hendri juga disebut mirip Afgan sejak pake kacamata kan. OMG

Jadi saya itu dulu mau banget periksa mata tapi bingung harus kemana dan takut mahal. Dulu saya sering pusing, saya minum obat paracetamol setiap hari. Karena merasa ada yang tidak beres dan takut efek samping yang diakibatkan penggunaan obat jangka panjang, akhirnya saya memberanikan diri periksa ke dokter spesialis mata. Saya periksa ke dokter itu supaya ketahuan bagaimana kondisi kesehatan mata saya, kalau diperiksa ke optik kan cuma ketahuan angka plus/minus dan silinder. 

Saya tanya google "dokter mata di tasikmalaya" kemudian saya ketemu Klinik Mata Puspa Seruni. Sebelum datang kesana saya sempat menelpon jam praktek dokter dan perkiraan biaya konsultasi. Kemudian saya datang kesana bersama suami. Saya mendaftarkan identitas diri, saya bayar Rp 35.000 untuk mendapatkan kartu anggota dimana kartu tersebut harus dibawa ketika hendak periksa lagi. Menurut artikel kesehatan yang saya baca, kita disarankan periksa mata setiap 6 bulan sekali. Lalu saya menjalani pemeriksaan mata menggunakan 3 macam alat yang saya tidak tahu namanya, dan menurut hasil pemeriksaan dokter dapat disimpulkan bahwa saya mengalami dry eye syndrome dimana kondisi mata tidak dilindungi oleh air mata bisa karena produksi air mata tidak stabil atau air mata mudah menguap.


Kalau dihitung-hitung total uang yang saya keluarkan Rp 279.000 dengan rincian sebagai berikut:
  • Daftar Rp 35.000 dapat kartu member
  • Konsultasi dokter spesialis mata Rp 100.000
  • Obat tetes 2 macam Rp 144.000 
  • Lain kali siapin uang Rp 2.000 siapa tahu mendadak ada yang nagih parkir wkwkwk


Kondisi mata saya yang membutuhkan alat bantu:
  • Kanan sph -1.00 cyl -0.75 axis 170
  • Kiri sph -1/00 cyl -0.75 axis 10



Untuk biaya pendaftaran seharga Rp 35.000 menurut saya bahan yang digunakan "kartu" ini mudah rusak. Hanya secarik kertas yang ditulis tangan manual. Padahal sewaktu saya mendaftar gratis di Klinik Java Medica dan Apotek Century, saya bisa dibuatkan kartu bahan lebih kuat dengan komputer, biaya konsultasi yang lebih murah.



Obat tetes Bralifex dan Hyaloph masing-masing ukuran 5 ml, harus diteteskan ke mata setiap 3 jam sekali untuk satu bulan. Kalau saya baca-baca brosurnya, Bralifex sebagai anti inflamasi untuk mata iritasi sedangkan Hyaloph untuk mengatasi mata kering. Hyaloph mengandung sodium hyaluronate, apakah ada kaitannya dengan hyaluronic acid pada produk perawatan kulit Hada Labo yang bisa mengikat air dalam jumlah besar untuk melembabkan kulit kering? Bagi yang tahu, komen ya!

Lokasi Klinik Mata Puspa Seruni lumayan jauh dari kontrakan saya, sekitar 3.5 km di Jl. Sukamulyo. Kalau saya pesan kacamata disana, saya bakal capek bolak-balik. Jadi saya datang ke Optik Latansa yang berlokasi di Komplek Ruko Asia Plaza hanya berjarak sekitar 1.5 km dari kontrakan, bolak-balik pun tidak terlalu masalah karena dekat. Selain bangunan optik yang terkesan professional, petugas optik juga terlihat berpengalaman dan memakai seragam. Berbeda dengan optik-optik lain yang mempekerjakan pegawai tidak berseragam, takutnya tidak bersertifikat.

Di Optik Latansa, saya juga diperiksa ulang. Hasilnya cuma beda sedikit untuk axis kanan 165 sedangkan hasil periksa di dokter 170 tapi katanya gak masalah. Kemudian saya memilih frame yang paling murah, Rp 150.000 dan sepasang lensa anti radiasi dari merk Crizal by Essilor Rp 300.000 berarti total Rp 450.000 sudah termasuk hardcase, lap, dan kartu garansi. Eh, ada parkir juga.



Baru kali ini saya beli kacamata pakai mini goodie bag! Sebagai pembeli ngerasa spesial banget. Hardcase juga dilapis kain, tahan benturan, ada resleting dan gantungan yang kuat. Jadi bisa simpan dimana pun, gak perlu takut terbuka sendiri, penyimpanan lebih aman. Padahal tadinya saya sempat ragu kenapa harga kacamata di optik sangat mahal dibanding harga pasar, ternyata karena optik memberikan pelayanan lebih baik, pemeriksaan mata dengan alat yang memadai agar hasil lebih akurat dan bukan menebak-nebak. Jarak antara kedua pupil juga menjadi bahan pertimbangan dalam pembuatan kacamata yang layak. 





Review singkat untuk lensa Crizal by Essilor, dikutip dari website resmi www.essilor.co.id Crizal menawarkan penglihatan lebih baik, lebih jernih, dan lebih nyaman. Crizal dapat melindungi mata dari cahaya lampu-lampu kendaraan, lampu jalanan, sinar matahari, cahaya dari komputer, anti debu, dan tidak membuat orang lain silau. Karena lensa Crizal ini sifatnya customisasi berarti bisa disesuaikan dengan kebutuhan pemakai, seperti pada kasus mata saya yang minus dan silinder. Selama 2 hari pemakaian memang benar saya merasa lebih jelas dalam melihat semua benda di sekitar saya. Sakit kepala yang dulu menyerang saya setiap hari dari kisaran jam 12 hingga sore hari, sekarang sudah tidak saya rasakan lagi. Lensa tidak mudah berdebu, saya cuma mengelap kacamata sekali sebelum tidur agar keesokan paginya saya tinggal pakai. Jadi tidak perlu dilap berkali-kali. Bahkan saya kini merasa percaya diri bisa menulis post di blog sesering mungkin karena berkat bantuan lensa ini mata tidak cepat lelah. 



Kekuranganya terletak pada frame. Jadi frame ini ketika dipakai semakin lama akan semakin merosot, seperti kurang sesuai dengan bentuk hidung saya yang pesek! HAHAHA! Saya tidak mau menukar frame, karena pasti keluar uang lagi nanti, udah kebobolan juga. Jadi saya siasati dengan menyelipkan batang frame ke rambut, bukan ke telinga. Biar gak gampang merosot. Daripada ganti frame mending operasi hidung biar lebih mancung! WTF

Rencana saya ke depannya kalau obat tetes dari dokter sudah habis, saya mau mengkonsumsi suplemen untuk kesehatan mata. Seperti Sea Quill Eye Bright yang bisa memulihkan mata kering. Saya juga pengen banget punya lensa Crizal Transition, lensa yang dapat berubah warna menjadi hitam ketika mendeteksi sinar UV dan kembali menjadi bening saat di dalam ruangan. Mudah-mudahan kesampaian.. Sekian.

UPDATE 19-09-2017
Setelah balik lagi ke Optik Latansa, kacamata saya cuma perlu diotak atik sedikit oleh petugas optiknya dan langsung pas tidak longgar lagi. Udah tenang sekarang gak perlu takut kacamatanya jatuh. Dan gak perlu oplas mancungin hidung HAHA.