Monday, July 24, 2017

Merekrut Karyawan (Lagi)

Karena multitasking bisa membunuh produktivitas..
Sudah sepantasnya pekerjaan diserahkan ke karyawan dibagi-bagi..

Kenapa ditulis (Lagi)? Karena dulunya saya pernah punya beberapa karyawan, tetapi semuanya sudah berakhir. Ada yang diberhentikan, keluar sendiri, dan lanjut mandiri. Kalau dibikin daftar orang-orang yang pernah kerja di saya kurang lebih..



1. Ai Wida
2. Ipeh
3. Awan
4. Fendi
5. Ikhsan

Ai Wida ini yang pertama sekaligus terakhir, dia masa kerjanya paling lama dari yang lain tetapi saya berhentikan karena tidak cocok. Mungkin dia sudah jenuh kali ya, diterusin kerja terpaksa karena dia punya setoran motor sebesar 70% dari gajinya. Tapi ya kalau sudah tidak cocok, sering misskomunikasi dan susah diajak kompromi, akhirnya saya berhentikan. Dulu yang mereferensikan dia adalah ibunya yang kebetulan masih tetangga, jadi saya belum punya kriteria khusus, yang penting mau diajak kerjasama sudah cukup. 

Yang kedua, Ipeh. Dia ini teman dekatnya Ai Wida dan masih tetangga. Tetapi setelah hampir satu tahun masa kerjanya, dia seperti gak ada kemajuan baik dari segi pengetahuan produk maupun pemasaran. Saat saya memutuskan untuk membagi porsi kerja menjadi admin dan sales, Ai Wida jadi admin dan Ipeh jadi sales, Ipeh mengundurkan diri karena kalau jadi sales dia tidak sanggup mengejar target penjualan. 

Lalu saya mendapat gantinya, yaitu Awan. Saat itu kebetulan awal mula saya pacaran dengan Hendri jadi Hendri sendiri yang mereferensikan. Di awal-awal agak kaku juga menjelaskan beberapa materi ke karyawan cowok karena saya pikir cowok mana mau ikut-ikutan ngebahas kecantikan, tapi alhamdulilah ternyata dia mau juga, namanya cari uang yang penting halal dong hehehe. Selama jadi sales Awan selalu mencapai target, kemudian memilih jalur mandiri. Sampai sekarang masih suka dapet orderan juaranya ACNACARE PLUS 100 BOX HAHAH

Beberapa bulan kemudian saya menikah. Saya dan suami mulai menyewa kontrakan per tahun supaya lebih leluasa menambah kapasitas usaha. Alhamdulilah tidak lama kemudian saya mendapat karyawan lagi dua orang, yaitu Fendi dan Ikhsan. Mereka berdua tetangga dari kontrakan yang saya beri jam kerja shift malam. Tetapi empat bulan kemudian, Fendi terpaksa saya berhentikan karena tidak mencapai target, sedangkan Ikhsan mengundurkan diri dengan alasan yang sama. 

Jadi ya sudah.. Berakhirlah semuanya. 



Kalau boleh jujur, sebenarnya yang menginginkan rekrut karyawan adalah orang tua saya. Memang sih niat mereka baik yaitu untuk mendukung usaha anaknya, tapi berhubung saya tidak punya skill dalam mengelola tenaga kerja (yang kata orang sukses adalah aset), saya merasa gaji yang dibayarkan cuma buang-buang duit. Ditambah lagi kondisi pengeluaran yang tidak terkendali membuat saya dan suami harus berpuasa di akhir bulan. 

Tetapi ya, itu dulu..

Sekarang walaupun orang tua saya selalu bertanya, "Usahamu bagaimana? Sudah rekrut karyawan lagi?" Saya abaikan saja karena selama bulan Ramadhan kemarin, kami sedang mempersiapkan diri bagaimana langkah-langkah selanjutnya. Ya, tentu saya mau rekrut karyawan. Tetapi ketika saya sudah siap. Ketika saya sendirilah yang menginginkannya. 


Pengalaman Mencari Karyawan


1. Posting di Grup Facebook Lowongan Kerja Tasikmalaya. Memang sih, ketika memposting langsung ada yang tanya-tanya lewat komen atau inbox, bahkan ada juga yang langsung datang ke rumah. Tetapi menurut saya tipikal orang-orang disana terlalu bertele-tele. Kebanyakan tanya, waktunya masuk kerja, malah ngilang. Mungkin karena Facebook itu sifatnya santai, merasa bebas bertanya tanpa bertatap muka.  

2. Minta referensi ke tetangga. Sebenarnya sih bagus ya, kita kan jadi sosialisasi gitu sama tetangga. Tetapi kalau yang nyuruh kerja di saya adalah orang tua mereka, terkadang ke anaknya jadi berdampak "Yang penting kerja aja. Daripada nganggur di rumah." Akibatnya kinerja mereka tidak maksimal karena ya mikirnya daripada nganggur. 

3. Pasang pengumuman di depan rumah. Ini cara tradisional menurut saya dan paling efektif. Karena apa? Setiap orang yang lewat bisa tahu kalau saya butuh karyawan. Pasang pengumuman seperti ini berpotensi mendatangkan calon karyawan yang memang dia sendiri berminat, bukan embel-embel suruhan orang tuanya. Bukan sekedar penasaran, jadi memang yang benar-benar butuh pekerjaan. 

Benar ternyata, kurang dari 2 minggu setelah saya pasang penguruman, datanglah pelamar baru namanya Rafa, kebetulan dia baru pindahan. Dia baru lulus SMK Farmasi berarti usianya sekitar 18-19 tahun. 

Dia saya ajarin cara-cara balesin pesan, ngetotalin orderan, ngecek tansferan, sampai marketplace juga dia yang pegang. Dulu saya pernah merasa buang-buang duit ketika karyawan tidak menghasilkan penjualan, sekarang mah beda. Setelah Rafa upload foto-foto aksesoris ke Bukalapak, eh besoknya langsung ada orderan. Suruh upload foto-foto lipstick ke Shopee, baru saja kemarin, dapet orderan juga. 



Yang saya rasakan sekarang sejak ada karyawan, beban saya jadi berkurang. Saya sadar selama ini saya dan suami so-soan bisa meng-handle semuanya sendiri, dengan bangga mengatakan, "Kita belum punya karyawan jadi ya semuanya dikerjakan berdua, selama masih bisa jalani aja.." 

Padahal giliran ada orderan yang kelewat, giliran kewalahan antara:

Pekerjaan Rumah VS Ngasuh Icha VS Ngurus Orderan

Rasanya kayak udah tua pikun dikit-dikit lupa. Begitulah. Multitasking Kills Productivity.

Selama ini mungkin saya terlalu berkutat pada pemisahan Admin dan Sales. Padahal, daripada si Admin dibiarkan santai ya mending kasih dia tugas-tugas masarin kayak update di marketplace. Intinya bagaimana supaya tenaga dia tidak terbuang percuma. Kalau handphone pemesanan lagi sepi, gak ada salahnya ngecek marketplace karena kan kalau disana ada orderan otomatis jadi tugasnya dia juga. 

Dan sekarang juga saya lebih sering masak, gantian sama Hendri mendadak jadi Cheff Juna wkwkw.. tiap mau keluar rumah lampu-lampu dimatiin, charger HP dan colokan TV dicabutin, belanja kebutuhan ke minimarket terdekat, jauh-jauh dari yang namanya mall gede karena disana banyak godaan. Lumayan tagihan listrik sekarang mah jadi gak sebesar bulan lalu, terus saya suka ngumpulin voucher pembayaran tagihan di Tokopedia, so akhir bulan ini dompet keluarga masih ada pegangan untuk gaji, kebutuhan bulan berikutnya, buat liburan #ehh..

Terimakasih Ya Allah, Engkau masih mempercayakan kami untuk membimbing pegawai, semoga dengan dimulainya kerjasama ini bisa memberi kemajuan pada usaha kami dan memberi jalan bagi pegawai untuk mencari rizki. Amiin..

Tuesday, July 11, 2017

Pengalaman Berjualan di Marketplace (Tokopedia, Bukalapak, Lazada, & Shopee)


Dalam berjualan online tidak lengkap rasanya kalau kita belum membuka marketplace. Adanya fasilitas rekening bersama dari pihak ketiga membuat transaksi lebih aman karena dana diteruskan ke Penjual setelah barang sampai ke tangan Pembeli. Lalu, apa kelebihan marketplace bagi Penjual?

Keuntungan Berjualan di Marketplace


- Penayangan produk yang banyak. Pihak Marketplace bekerja sama dengan Google Adsense. Secara iklan dari Google Adsense hadir dimana-mana, dan seringkali menampikan produk-produk yang dipajang di marketplace. Bisa saja salah satu produk yang ditampilkan itu adalah produk yang kita pajang. Semakin banyak dilihat orang, semakin besar potensi terjual.  

- Transaksi lebih aman. Pembeli tidak perlu takut tertipu karena uang yang kita bayarkan ditahan oleh pihak marketplace sebelum barang sampai ke tangan pembeli. Setelah barang diterima, barulah oleh marketplace uang diberikan pada Penjual. Dalam hal ini, karena tingkat kepercayaan yang lebih besar, maka Pembeli tidak perlu ragu melakukan transaksi.

- Hanya melayani pembeli yang serius. Sepanjang saya jualan di marketplace, jarang sekali ada pembeli yang rewel. Kebanyakan pesanan yang saya terima berasal dari pembeli yang tidak banyak tanya, tahu-tahu pembeli sudah transfer seluruhnya sehingga saya sebagai penjual bisa berfokus pada proses pengepakan dan pengiriman saja. Itu karena di etalase barang sudah disediakan deskripsi, jadi kalau Pembeli di marketplace rata-rata sudah membaca deskripsi sebelum memesan. 




Keliatannya simple ya? Tinggal majang foto-foto produk, eh tau-tau dapet pesanan. Tapi berjualan di marketplace bukan tidak mungkin ada kekurangannya, lho. 

Kelemahan Berjualan di Marketplace


- Lambatnya perputaran modal. Kalau kamu belum kuat modal, saya sarankan kamu harus pikir matang-matang sebelum membuka akun di marketplace. Karena saat kita mengirimkan barang, kita tidak bisa langsung menerima uangnya saat itu juga. Kita harus menunggu barang sampai ke tangan pembeli dulu barulah saat itu kita bisa menerima pembayaran. Apalagi tidak semua Pembeli bermurah hati melakukan konfirmasi terima barang. Di Tokopedia apabila Pembeli sudah menerima pesanan maka dia harus mengklik terima barang, supaya dana segera diteruskan pada Penjual. Tetapi setiap Pembeli kan beda-beda ya, kalau dia tidak klik terima barang, maka dana diteruskan 2 hari kemudian setelah nomor tracking mendeteksi barang tiba di alamat. Belum lagi di Lazada, dana pembayaran ditransfer seminggu sekali ke Penjual. 

Berbeda halnya dengan kita berjualan di luar marketplace. Saat kita menerima pembayaran yang langsung ke tangan kita, kita bisa langsung belanja stock baru. Modal pas-pasan juga asal perputarannya cepat bisa membesar bagai bola salju yang digulingkan.  Kecuali, jika kamu hanya sekedar menjual barang tak terpakai, marketplace akan sangat membantu. 

- Mudahnya mendapat reputasi buruk. Eh apaan ini? Ya jadi maksudnya marketplace itu menyediakan kolom ulasan yang diisi oleh Pembeli. Kalau kita terlambat memasukkan nomor resi atau tracking code lebih dari 24 jam dari pembayaran, kita bisa dinilai lambat. Apalagi kalau Pembeli kecewa dengan produk yang dipesan, Pembeli akan 'balas dendam' lewat ulasan yang bisa dibaca oleh orang lain. Apalagi kalau kita coba-coba memajang produk yang kosong, salah-salah bisa kena denda 100.000 di Lazada sebagai akibat dari menolak orderan. 




- Persaingan harga yang tidak sehat. Mudahnya bertransaksi di marketplace dan banyaknya penayangan produk lewat iklan membuat Penjual bersaing dengan kekuatan modal. Demi mendapatkan penjualan sesegera mungkin, tidak sedikit Penjual yang membanting harga jauh lebih murah dari pasaran. Akibatnya penjual yang memiliki modal kecil lebih susah mendapat pelanggan. 

Tips Berjualan di Marketplace


Untuk menyiasati kelemahan dan memaksimalkan keuntungannya, ada beberapa tips yang bisa diterapkan bagi kamu yang ingin berjualan di marketplace. 

- Foto adalah segalanya. Bagus atau tidaknya foto produk sangat menentukan ketertarikan pembeli, sehingga dibutuhkan usaha untuk menghasilkan foto yang bagus. Solusinya mulai belajar memotret dari sudut pencahayaan yang baik. Tidak perlu kamera mahal, kamera android pun jika digunakan dengan tepat bisa menghasilkan foto yang menarik. 

- Tulis deskripsi dengan lengkap supaya pertanyaan calon Pembeli terjawab, tapi tulis secara jujur jangan terlalu melebih-lebihkan. Misalnya jika kamu jualan sepatu yang bukan ori, daripada ditulis ori lebih baik gunakan bahasa yang lebih halus seperti replika atau kw super. 



- Jangan pajang barang yang tidak ada! Saya sering menemui penjual di Tokopedia yang memajang barang kosong. Biasanya sih karena barang yang dijual sangat banyak sehingga Penjual tidak sempast mengecek produk satu per satu. Kalau sudah seperti ini situasinya lebih baik menambah tenaga kerja, kalau terpaksa menolak order sampaikan permohonan maaf secara pribadi melalui pesan daripada mendiamkan pembeli berhari-hari. Boleh dibilang marketplace mendewakan Kepuasan Pembeli, dengan memajang barang yang siap kirim setidaknya bisa menghindari kekecewaan pembeli yang terlanjur transfer tanpa bertanya stock dulu.

- Kirim pesanan kurang dari 24 jam. Jika kamu menerima pesanan dan memasukkan nomor resi pada hari yang sama, maka reputasi toko kamu akan meningkat. Semakin baik reputasi, semakin banyak pelanggan. 

- Walaupun modal pas-pasan, jangan berkecil hati! Kamu tetap bisa mendapat banyak penjualan dengan mengutamakan pelayanan. Foto produk yang keren hasil bikinan sendiri, deskripsi yang lebih lengkap dari yang lain, serta kecepatan mengirim bisa menjadi nilai plus dibanding Penjual lain yang pasang harga lebih murah. Karena saya pribadi lebih suka berbelanja di penjual yang respon cepat harga sedikit mahal daripada murah tapi pelayanan jelek. Hal-hal kecil seperti mengkabari pembeli dengan mengirim pesan langsung akan terkesan ramah dan hangat, walaupun pembeli sudah pasti mendapat notifikasi dari sistem marketplace tidak ada salahnya pendekatan seperti ini dilakukan penjual. 

Tips ini bisa diterapkan di berbagai marketplace, karena intinya sama saja marketplace berperan sebagai pihak ketiga yang membantu menghubungkan pembeli dan penjual. Jika suatu hari nanti modal kamu sudah bertambah, tidak ada salahnya memperbanyak jenis barang yang kamu jual. Karena pembeli akan lebih leluasa berbelanja di toko yang menjual banyak barang. Maka saya ucapakan semoga berhasil untuk kamu yang sedang merintis online shop!