Saturday, October 25, 2014

Haruskah Saya Menikah?

Saya pernah mengalami masa-masa emas dalam hidup saya. Masih lajang, bisnis lancar, banyak teman. Menjadi single adalah pesta yang tidak berkesudahan. Berkenalan dengan lawan jenis yang menarik, indahnya mempromosikan diri, tidak perlu memberi kabar setiap kali bepergian. Namun saya sadar bahwa saya tidak bisa seterusnya menikmati semua ini, bahwa kebebasan adalah kemewahan terbesar dalam hidup saya yang akan saya rindukan.

Tuhan selalu punya cara untuk mempertemukan kita dengan orang-orang yang punya pemikiran sejalan. Itulah yang saat ini terjadi kepada saya, setelah satu tahun yang penuh dengan kegagalan terlewati, siapa sangka ternyata calon partner yang selama ini saya cari justru dia yang selama ini ada di dekat saya. Bagaimana bisa saya selama ini tidak menyadari keluarga dan lingkungan pergaulannya menerima keberadaan saya, saya seperti menemukan tempat.

Belajar dari pengalaman sendiri dan melihat pengalaman orang lain juga, terlintas pertanyaan di benak saya; untuk apa pacaran lama-lama kalau pada akhirnya putus? Memang benar jodoh itu Tuhan yang mengatur, tapi saya ingat kata-kata mantan bos saya kalau jodoh itu tetap kita yang mengusahakan. Saat ini saya berusia 21, teman-teman saya banyak yang menikah sebelum usia 20. Bagi saya tidak ada salahnya merencanakan pernikahan dari sekarang.

Mengenai pernikahan seperti apa yang saya inginkan. Pernah ada yang iseng bertanya, apakah Elsa menginginkan pernikahan yang mewah seperti menyewa gedung atau hotel? Pernikahan hanya terjadi sekali dalam seumur hidup, harus dirayakan kalau bisa yang semeriah mungkin. Saya tidak menjawab, karena saya merasa pertanyaan seperti itu bukan untuk dijawab.

Sebagai anak yang sudah punya penghasilan sendiri, tentunya saya tidak akan meminta biaya pernikahan dari orang tua. Kalaupun calon suami bersedia membiayai, saya akan mencegahnya mengingat resepsi pernikahan kecil-kecilan saja bisa menghabiskan biaya sedikitnya 10 juta. Bagi saya uang sebanyak itu lebih baik dipakai modal, atau diinvestasikan. Menurut kamu, bagaimana jika seandainya ada pasangan yang memutuskan menikah tanpa resepsi? Jika berkenan, mohon share pendapatnya di komentar.

Monday, October 20, 2014

Menyelesaikan Pekerjaan Lebih Cepat

Jika rutinitas sehari-hari membuat kita kehilangan waktu untuk berkumpul dengan keluarga, kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri karena kita sibuk bukan atas kemauan kita. Tapi karena tuntutan pekerjaan memang sudah begini adanya, kita mendapatkan hasil yang lebih dari cukup, akan tetapi libur dan istirahat seolah tidak pernah cukup. Let's be smart, selesaikan pekerjaan segera, hindari lembur agar bisa segera pulang.

Siapkan Diri Anda Untuk Berhenti

Saya pribadi bukan tipikal orang yang suka lembur, karena saya pikir itu tidak efektif. Bagadang sepanjang malam hanya akan merusak jam biologis tubuh dengan ditandai gejala kelelahan, gampang sakit, dan emosi labil. Misalkan Anda bekerja sampai jam 17.30, namun Anda membiarkan diri Anda bekerja sampai jam 20.00. Memang tidak ada salahnya bekerja melebihi 8 jam per hari sesekali, akan tetapi lama-lama tubuh Anda bisa ngedrop kalau terus-terusan diforsir. Menyetel alarm satu jam sebelum waktu pulang dapat membantu Anda menyiapkan diri dengan membereskan segala hal, selain membantu Anda tetap berkomitmen pulang tepat waktu, menetapkan titik berhenti untuk diri sendiri dapat membuat Anda termotivasi, fokus, dan produktif sepanjang waktu.

Jauhkan Ponsel Anda

Smartphone bagaikan pisau bermata dua, kalau kita tahu cara menggunakannya maka dapat meningkatkan produktifias, namun jika disalah gunakan malah membunuh produktifitas. Menyimpannya di dalam laci atau di tempat lain yang jauh dari jangkauan Anda selama bekerja membuat Anda merasa perlu berupaya untuk memeriksa ponsel setiap kali mendapat pemberitahuan atau SMS, sehingga Anda mulai terbiasa mengabaikannya. Jika pekerjaan Anda melibatkan ponsel, atur nada dering khusus untuk atasan, rekan kerja, dan klien. Tentunya Anda tidak perlu menjawab panggilan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, bukan?

Luangkan Waktu Untuk 'Mengeluarkan' Pekerjaan dari Kepala

Di beberapa perusahaan ada peraturan tidak boleh membahas pekerjaan saat jam makan siang. Menurut saya itu peraturan yang bagus, karena kalau Anda sibuk sepanjang hari, Anda tentu membutuhkan jeda dimana Anda dapat mengistirahatkan pikiran. Dengan sedikit peregangan, berjalan-jalan di sekitar kantor atau menjauh sementara dari meja kerja, dapat membantu Anda kembali bekerja lagi dengan energi baru dan perspektif yang segar. Memberi kesempatan untuk bersantai membuat Anda dapat melakukan lebih banyak hal, kembali fokus, menghindari kesalahan konyol dan frustasi.