Thursday, May 4, 2017

Perjuangan 1 Tahun Menyusui Raisa

Waktu itu malam hari sekitar jam 9, Mama merasakan kamu bergerak-gerak terus di dalam perut Mama seolah tidak sabar mau keluar. Namun Mama tetap tenang dan mengusap kamu sambil berbisik, "Sabar, ya, De.. Sebentar lagi." Lalu Mama pergi tidur dan menganggap gerakan-gerakan itu sama saja dengan gerakan sebelumnya yang sering muncul.

Tanda-tanda Akan Melahirkan



Mama dibangunkan oleh adzan awal sekitar jam setengah 3 dini hari, mungkin karena Mama baru satu bulan menempati rumah ini jadinya Mama selalu bangun setiap kali adzan awal berkumandang. Saat itu Mama merasakan ada semacam cairan keluar mengucur, Mama pikir itu wajar karena biasanya wanita yang sedang hamil kurang bisa menahan pipis lama-lama. Tapi setelah Mama ke WC dan Mama lihat warnanya bening, Mama yakin sekali itu bukan air kencing. Kemudian Mama langsung menelpon Bidan Pia, yang telah membantu nenekmu melahirkan dua kali dan ditunjuk untuk memantau kehamilan Mama sedari awal. Ibu Bidan memberi tahu Mama kalau persalinan itu bisa maju lebih awal dari perkiraan lahir, sehingga bisa disimpulkan cairan itu adalah air ketuban yang menandakan kamu akan segera lahir ke dunia.

Saat itu Mama sangat gelisah, bagaimana caranya memberitahu Papamu, Mama gak tega bangunin dia karena kalau dibangunin dia selalu bicara ngelantur, tapi karena cemas terpaksa Mama bangunkan. Untungnya Papa langsung paham dan menyuruh Mama segera minta bantuan sepupu Mama, Risman supaya menjemput pakai mobil karena waktu itu Papa agak takut kalau Mama naik motor. Setibanya di Bidan Pia, kira-kira sekitar jam 4 dini hari, Mama melihat Asisten Bidan sedang mengurus bayi laki-laki yang sepertinya baru lahir. 

Setelah diperiksa oleh Ibu Bidan, Mama diminta menunggu di dalam kamar dan diberi antibiotik. Entah kenapa kamarnya itu terkesan suram, pencahayaan lampu kuning, hanya diberi pemisah kaca buram dari kamar yang satu dengan yang lain. Sama-samar Mama mendengar sebuah suara yang Mama kenal di ruangan sebelah, dan ketika Mama lihat, ternyata dia adalah Rima teman Mama saat SMP yang kebetulan baru saja melahirkan tadi malam. Anaknya laki-laki. 

Bukannya kegelisahan berkurang, malah bertambah karena Rima nakut-nakutin Mama, "Rasanya melahirkan itu kayak hidup dan mati!" Yah dia emang orangnya suka mendramatisir sih hehehe.

Pindah Bidan


Sampai jam 6 pagi, Mama agak heran, padahal sudah pecah ketuban duluan tapi anehnya gak ada tanda-tanda kamu mau keluar. Padahal Ibu Bidan sudah bilang kalau sampai jam 8 belum ada tanda-tanda keluar juga Mama harus dirujuk. Papamu juga keliatannya panik, karena saat Mama sedang mengobrol dengan Rima, Ibu Bidan bicara ke Papa bahwa persalinan Mama akan dirujuk ke RS Jasa Kartini. Tapi walaupun Mama masih gelisah, Mama gak langsung menuruti harus ke RS itu yang terkenal mahal biaya persalinannya, Mama diam-diam berkompromi dengan ibunya Mama untuk pindah ke bidan lain.

Kira-kira satu bulan sebelum Mama melahirkan, ibunya Risman sempat menjenguk Mama yang baru saja menempati rumah kontrakan. Katanya jika suatu saat bidan yang Mama kunjungi tidak menyanggupi dan malah memberi rujukan ke RS, masih ada alternatif lain yaitu Bidan Herbal Iis Khoerikmah yang juga dikenal Rumah Sehat Naafillah, karena selain melayani persalinan, disana juga menjalankan terapi pengobatan penyakit berat. Tanpa pikir panjang Mama sekeluarga langsung berangkat ke bidan itu yang berada di daerah Paseh. 

Kalau dipikir-pikir sebenarnya Mama menyesal kenapa dulu malah berkonsultasi ke Bidan Pia, cuma karena dia pernah membantu ibunya Papa melahirkan dua kali tapi ujung-ujungnya malah memberi rujukan ke rumah sakit.

Alasan Mama ingin pindah bidan:

1. Sebagian besar wanita melahirkan di rumah sakit berakhir dengan cara operasi sesar, hanya sebagian kecil saja yang melahirkan normal. Apalagi untuk sekelas RS mewah Jasa Kartini, sudah pasti terjawab endingnya bagaimana. 
2. Kadang bidan-bidan yang tidak mau repot tinggal memberi rujukan ke RS, dan dapet pemasukan gede dari persalinan operasi sesar. 
3. Mama pernah baca artikel di internet bahwa si bayi punya waktu 24 jam setelah pecah ketuban. Untuk kasus Mama, pecah ketuban jam 02.30 dini hari tapi Bidan Pia bilang kalau jam 8 pagi belum ada tanda-tanda keluar harus segera ditindak. Inilah yang membuat Mama jadi mantap pindah ke bidan lain. 

Sesampainya di Bidan Iis, Mama diperiksa dan katanya sudah pembukaan tujuh. Berarti tinggal menunggu. Tapi kita juga tetap mengusahakan yang terbaik.



Disini kamarnya lebih nyaman, terlihat lebih bersih dan terawat, gaya minimalis, cat dinding biru-pink. Apalagi Ibu Bidan Iis mendukung Mama untuk melahirkan secara normal, jadilah Mama merasa pindah bidan adalah keputusan yang tepat. Bidan Iis juga mengatakan bahwa perkiraan bidan sebelumnya tidak menyanggupi bisa jadi karena tulang panggul Mama yang sempit untuk bobot kamu yang besar. Tapi Bidan Iis bilang jangan putus asa sebelum mencoba karena sesulit apa pun masih bisa diusahakan secara normal. 

Mama dikasih menu makanan herbal yang sebenarnya kurang suka, tapi namanya juga menyehatkan jadi tetap Mama paksakan. Terus Mama menjalani terapi bekam untuk diambil  darah kotor, katanya supaya tubuh lebih ringan saat mengejan, dan supaya ASI mudah keluar. Jam 7 malam selesai menjalani terapi sengat lebah, Mama merasakan sakit yang hebat, saat itulah Mama merasa waktunya bertemu denganmu semakin dekat. 

Mama menahan sakit dari jam 7 malam sampai jam 3 dini hari berikutnya, rasanya benar-benar jenuh berada disana. Mama melihat Papamu dan ibunya menangis karena melihat Mama kesakitan, Mama sudah muntah-muntah karena stress. Tapi entah kenapa, saat Asisten Bidan bilang sudah keliatan kepalamu dengan rambut hitam, Mama sangat yakin bisa segera pulang. Gak inget sama orderan, gak inget sama cucian numpuk di rumah. Ternyata memang benar ya, cuma mengejan tiga kali aja Ibu Bidan langsung bilang, "Selamat Ibu, anaknya perempuan." dan Mama langsung memejamkan mata sambil menghela napas lega. 


Ibu bidan menaruh kamu di atas dada Mama, katanya supaya kamu mencari-cari puting Mama. Saat itu Mama hanya bisa memegang tangan kamu dengan jari-jarimu yang lentik, kuku-kukumu bagus, kamu pasti cantik setelah besar nanti. 

Ibu bidan dan asistennya membersihkan kamu dan tubuh Mama, kemudian membawa kamu untuk ditimbang dulu. Setelah berganti pakaian, Mama diajari caranya menyusui. Mama memang belum tau apa-apa soal menyusui jadi Mama menurut saja. Puting payudara Mama yang kiri lebih kecil dari yang kanan, tapi kamu tidak menolak dan mau saja menyusu. 

Di awal-awal menyusui, Mama merasakan aliran darah nifas yang keluar semakin banyak. Memang katanya dengan menyusui dapat membantu rahim kembali ke bentuk asal. Air susu Mama gak langsung keluar banyak, selama tiga hari pertama masih sedikit-sedikit, tapi hari-hari berikutnya air susu jadi melimpah. Mama bahkan harus memompa dan menyimpan ASI di kulkas karena gak ketampung oleh kamu. 

Satu bulan kemudian, Mama mulai merasakan sindrom baby blues, Mama selalu menangis dan tidak keluar kamar seharian. Sindrom ini biasanya terjadi pada ibu-ibu yang baru punya anak dan tidak mendapat bantuan dalam mengasuh anaknya, ditambah lagi kewalahan dengan tugas-tugas rumah yang dikerjakan sendiri. Karena tertekan tak kunjung mendapatkan pembantu, Mama akhirnya menitipkan kamu di rumah ibunya Papa, yang kamu panggil Nenek. 

Itu adalah keputusan Mama yang salah karena saat itu Mama lebih memilih bekerja. Mama tidak tahan melihat rumah yang berantakan. Gara-gara kita dipisahkan oleh jarak, Mama semakin jarang menyusui kamu karena saat itu kamu diberi susu formula. Pantaslah kalau akhirnya air susu Mama semakin sedikit, kamu semakin keenakan diberi sufor dengan dot. Banyak orang berspekulasi bahwa air susu Mama berkurang gara-gara salah pil KB. Padahal sebenarnya Mama lebih yakin penyebab air susu berkurang itu akibat tidak disusukan.



Mama pun kembali diliputi kegalauan, Mama ingin kamu kembali di rumah ini, tinggal bersama Mama lagi sekalipun itu akan membuat pekerjaan Mama terbengkalai. Akhirnya Papa setuju untuk membawamu kembali. Saat itu Mama mulai bergabung grup facebook Asosiasi Ibu Menyusui, banyak pelajaran berharga yang Mama dapat. Termasuk seputar relaktasi. 

Relaktasi adalah istilah untuk ibu yang ingin kembali menyusui setelah berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan berhenti. Mumpung masih terlambat Mama pun berusaha relaktasi agar kamu bisa menyusu ke Mama lagi. Memang pada saat itu adalah masa-masa yang penuh dengan perjuangan, karena orang tuanya Papa ataupun orang tua Mama selalu menyalahkan air susu Mama setiap kali kamu sakit. Padahal sudah jelas ASI adalah yang terbaik dibandingkan sufor merk mana pun. 

Saat kamu berusia 3 bulan, kamu berhasil lepas dari sufor dan kembali lagi menyusu ke Mama. Namun saat kamu tumbuh besar, kira-kira saat usia 6 bulan, kamu mulai menolak payudara kiri yang putingnya kecil dan selalu ingin menyusu di sebelah kanan. Jadilah sekarang ukuran kedua payudara Mama gak sama rata, karena yang sering memproduksi ASI ukurannya bertambah besar.



Sekarang Mama sudah dapat pembantu, namanya Bi Imin dan dia mengasuh kamu seperti anaknya sendiri. Karena sudah mulai masuk makanan, frekuensi menyusu semakin jarang, produksi ASI pun berkurang karena menyesuaikan dengan kebutuhan kamu. Cuman, Mama sekarang jadi gak bisa menyimpan stock ASI banyak-banyak di dalam kulkas seperti dulu. Akhirnya terpaksa kamu diberi sufor ketika sedang bersama Bi Imin, dan kembali menyusu ke Mama saat malam hari. Gak terasa usiamu sudah 1 tahun, dan Mama akan terus menyusui sampai kamu 2 tahun, bahkan lebih jika memang kamu membutuhkan. Gak apa-apalah gak full ASI, yang penting selama Mama masih mampu, Mama akan tetap menyusui. 

Wednesday, May 3, 2017

Modelones Diamond Nail Gel Review [Cat Kuku Glitter]

Sekarang ini lagi musim cat kuku yang bisa dikelupas terutama buat muslimah sangat digemari karena ketika mau shalat gak usah ribet bawa-bawa cairan aseton, tinggal dikelupas aja pinggirannya kayak masker peel off, udah bisa wudhu. Kalau dulu semasa sekolah aku pakai cat kuku cuman pas lagi haid aja sekarang kapan pun bisa karena ngehapusnya gak perlu pake aseton apalagi jadi irit dong hehehe.

Nah kalau biasanya kuteks jenis peel off cuma warna polos-polos aja kan bosen ya. Gak ada salahnya nyobain kuteks motif berlian dari Modelones yang dikasih nama Diamond Nail Gel Soak-Off UV & LED Polish. Dikasih nama diamond karena polesan cat kuku hasilnya menyerupai motif berlian yang berkilauan gitu. Teskstur-nya gel beda sama cat kuku pada umumnya, bisa cepat kering di bawah sinar matahari atau LED.

Bikin review ini sih sebenarnya untuk kepentingan jualan, bisa disebut tester atau sponsored by online shop sendiri haha. Karena kalau dicoba dulu kan jadi gampang jelasin detail-nya ke customer. Barang dikirim dari China langsung menggunakan Pos Malaysia, jadi sebelum dateng ke Indonesia nyimpang ke Malaysia dulu, kurang lebih pengirimannya 2 mingguan. Kalau aku belanjanya cuma satu biji kan nanggung ya, nunggu dalam waktu selama itu, jadi biar gak tanggung pesennya minimal selusin aja buat dijual.


Maafkan diriku yang ngambil fotonya gak ngepas, wkwk..
Di kesempatan ini aku pilih warna ijo dengan kode 3506 karena kebetulan baju yang mau dipake ke kondangan warna ijo, biar serasi dong.. Habisnya pas mau berangkat, eh kebetulan kurir Pos dateng nganterin paket, ya udahlah langsung aja buka. 




Tesktur-nya gel, tapi pas dikeluarin encer banget. Kalau gak hati-hati bisa netes kemana-mana dengam mudahnya karena aku sendiri juga gitu (maklum kurang berpengalaman). 


Jadi dia warna gel-nya itu bening, cuman dikasih glitter-glitter banyak gitu supaya keliatan berkilau. Ngolesnya beda, harus ditotol-totol pelan ke kuku nantinya dia menyebar sendiri, tinggal kitanya aja pinter-pinter ngerapiin. Buat pemula kayak aku mungkin gak gampang ya bikin hasil keren dan rapi, tapi inilah hasilnya dan aku sudah cukup puas. 


Penjualnya sempat menjelaskan bahwa untuk mendapatkan hasil polesan sama seperti di foto model, disarankan memakai base coat (lapisan dasar) sebelum mengoleskan Diamond Nail Gel, agar warnanya bener-bener keluar. Dan juga mengoleskan top coat sebagai finishing. Tapi dengan memakai ini saja pun aku udah cukup puas dengan hasilnya, ditambah lagi aku gak perlu ribet ngehapusnya pas mau wudhu karena tinggal dikelupas pinggirannya langsung lepas.

Kalau kena air, luntur nggak?
Selama kamu gak ngelupasin pinggirannya, kebasuh air aja gak akan luntur. Pakai sabun pun nggak.

Berapa lama bisa keringnya?
Di bawah sinar matahari, kurang lebih 30 detik. Pakai alat pengering bisa lebih cepat. Kalau gak kena matahari atau gak dikeringkan pake alat, sepengalamanku sih gak kering-kering.

Ini barangnya asli atau palsu?
Kami order langsung dari Official Store Modelones di China, jadi sudah pasti barangnya asli ya. Mungkin di pasaran banyak beredar cat kuku jenis serupa tapi aku udah pernah coba yang lebih murah dan memang benar ada harga ada kualitas.

Kalau dulu pas awal dateng aku jualnya 49.000 sekarang jadi 58.000 dan itu pun masih bisa berubah-ubah ke depannya tergantung dari kurs dollar. Tertarik untuk dapatkan produk ini? Hubungi kontak di bawah!

Natureve Shop
SMS/Whatsapp: 083827560555
Pin BBM: 5430F07F
Website: www.natureveshop.com

Saturday, January 28, 2017

Emak - emak = Mulitasker?



Pengennya sih update blog ini tiap Sabtu, tapi karena saya sebagai ibu-ibu pemula jadi masih belum pandai membagi-bagi waktu dan memprioritaskan tugas-tugas. Kalau ada yang bilang perempuan adalah multitasker sejati, ada benarnya juga. Baru-baru ini saya bisa mencuci piring sambil jagain anak, maksudnya ketika saya mencuci piring tiba-tiba Icha bangun dan nyamperin saya, daripada saya suruh pergi percuma yang ada malah makin penasaran, ya udah saya biarin aja dia main air di samping saya. Waktu itu kan masih shubuh kebetulan bapaknya belum bangun. Biarin deh basah-basah juga toh bentar lagi juga mau dimandiin. Bahkan ketika Icha berendam di bak mandi bayi, saya sempat-sempatnya menanak nasi. Saat mesin cuci dalam mode pengeringan, saya memasak air buat persediaan nyeduh kopi.

Pengennya sih gak tanggung-tanggung ngepel lantai teras sambil memangku Icha aja sekalian, untungnya Bi Imin (pembantu rumah saya) keburu datang jadi saya serahkan urusan bersih-bersih dan ngebajuin Icha dengan tenang. Bi Imin masuknya emang jam 07.15 setelah nganterin anaknya sekolah, kebetulah lokasi SD masih sekitar rumah saya. Rumah Bi Imin juga masih dekat rumah saya jadi gajinya 600 ribu karena gak ada biaya transportasi. Di Tasik pasaran gaji pembantu emang segitu, kalau pembantu nya pakai kendaraaan bisa nyampe 900 ribu.

Selama ini tiap belanja kebutuhan, saya pergi berdua sama suami. Karena belanjanya cuma pas lagi butuh aja otomatis jadi sering keluar. Icha nggak dibawa karena saya merasa gak perlu lah balita sering-sering naik motor, maksimal seminggu sekali kasian kalo keseringan kena angin. Dan karena saya waktu itu masih kurang percaya diri bawa motor sendiri sehingga kemana-mana harus diantar. Dampaknya, banyak orang yang saya kenal berkomentar miring, kemana-mana berdua kayak orang pacaran aja, anak ditinggal-tinggal ntar kurang kasih sayang

Yang menjadi curahan pertama saya ketika sedang tidak enak hati, kalo bukan suami ya pasti Mama saya. Dengan santainya Mama menimpali, "Mereka bawa-bawa anak soalnya bingung mau dititipin kemana. Liat aja artis, ngurus karir gak selalu bawa anak." Kedengarannya sih konyol tapi begitulah cara Mama menghibur saya. Ada waktu-waktu dimana kita tidak bisa membawa anak, misalnya pas lagi belanja kebutuhan, akan lebih singkat kalau anaknya tetap di rumah. Kalau mau bawa anak mending acara jalan-jalan santai aja, jangan dibarengin sama belanja. 

Dan, daaan... Karena saya udah bosan dikatain 'kayak orang pacaran kemana-mana berdua' jadi sekarang saya kemana-mana sendiri. Bukan karena suami gak mau anter, justru saya yang gak mau dianter. Menurut saya perempuan jaman sekarang harus mandiri apalagi kalo cuma belanja kebutuhan rumah tangga. Dengan begitu suami jadi bisa punya waktu lama ngurusin kerjaan. Walaupun udah ada karyawan tetep aja sebagai perintis usaha diperlukan tanggung jawab yang lebih besar. 

Saya bingung curhatan ini mau dikasih judul apa. Pada akhirnya, ini cuma sekilas kehidupan saya setelah berumah tangga. "Wanita itu seperti teh celup, kekuatannya bisa terlihat kalau dimasukkan ke dalam air panas." - Eleanor Roesevelt

Wednesday, December 28, 2016

Baby's Daily Skincare Routine


Gak terasa udah 10 bulan usia anakku. Berarti udah 10 bulan dong ya aku jadi ibu hehehe. Sebagai ibu tentunya aku sangat menikmati momen-momen spesial bersama anak, seperti menyusui, nemenin dia bobo, memandikan dan memakaikan baju. Karena aku gak mau momen itu berlalu begitu aja, aku ingin mengingat semuanya dengan caraku.

Kulit bayi memiliki kondisi kulit yang hampir sempurna; mulus, bersih, lembab namun sensitif akan pengaruh lingkungan. Menurut penelitian, bakteri demodex ditemukan lebih sedikit pada kulit bayi dibanding kulit orang dewasa. Mumpung kondisi kulit bayi masih bagus, jika dirawat dari sekarang mudah-mudahan kebawa sampai dia tumbuh besar.

Sebelum menulis review ini aku sudah siap dengan berbagai judgemental miring seperti: dicap sebagai istri yang boros oleh ibu-ibu lain, terlalu berlebihan dalam merawat anak, dsb.

Sebelum kalian mengecap aku seperti itu ada alasan yang perlu dipertimbangkan. Kulit anakku tergolong sensitif, mudah terkena gatal-gatal akibat biang keringat. Icha (panggilan sehari-hari Raisa) adalah anak yang aktif dan lincah dibanding anak-anak seusianya sehingga ia mudah berkeringat. Dia pernah terkena gatal-gatal alergi hampir di sekujur tubuhnya, sudah berkonsultasi ke dokter spesialis kulit sehingga aku sebagai ibu gak kepengen kasus itu berlanjut dan mencegah itu terjadi lagi sebisa mungkin.

Rangkaian perawatan kulit punya Icha sebenarnya murah-murah karena semuanya produk lokal. Sekali-kalinya pakai produk impor cuma Sebamed Care Cream doang, itu pun pas dia lagi kena gatal-gatal parah, setelah sembuh ya balik lagi ke produk lokal hehehe biar hemat. Tapi kayaknya sekarang harus beli Sebamed lagi karena di telapak tangan dan kakinya udah mulai bermunculan kutu air yang susah hilang, ada saran?

Dimulai dari persiapan sebelum mandi. Karena kulit bayi sensitif jadi sebelum disiram air supaya gak kaget dan mudah luruh kotoran-kotoran dan sel-sel kulit mati, dioles pakai baby oil. Ngolesnya harus sambil pijat-pijat perlahan terutama di daerah lipatan seperti leher, ketiak, dan selangkangan. Disini aku pakai Cussons Baby Oil. Kenapa harus merk Cussons? Gak ada alasan tertentu sih, cuma karena dia murah dan isinya lebih banyak dibanding merk lain.


Lanjut ke kamar mandi. Awalnya aku pakai sabun batangan karena mertua yang beliin, tapi ternyata soap bar gak praktis dibawa-bawa. Icha kan sering dibawa nginep di rumah neneknya, otomatis perlengkapan mandi juga dibawa dong (kalau gak mau beli ngedadak disana). Yang paling mudah dibawa itu yang bentuknya cair. Karena sudah terlanjur dibeliin merk Cussons jadi aku pilih sabun cair Cusson's juga hehehe yang varian Anti Bacterial Wash. Ini bisa sekaligus shampo, soalnya rambut bayi masih tipis jadi belum terlalu butuh produk shampo terpisah. Aku pilih yang ada kandungan anti bakteri karena Icha mudah kena gatal-gatal akibat biang keringat.


Dikeluarin sedikit aja busanya banyak apalagi kalau pakai shower puff. Icha seneng banget saat-saat mandi, karena dia bisa main air, seringkali gak mau diajak udahan tapi tetep aja pada akhirnya aku bujuk dia supaya gak kelamaan main airnya takut masuk angin hihihi.

Ceritanya nih Icha sudah dibalut pakai handuk, kulitnya ditepuk-tepuk pelan biar kering. Nah saatnya pakai lotion. Wih keren nih kecil-kecil udah pakai lotion, udah kayak ibunya aja, huahaha..


Aku pilih Cussons Baby Calamine Lotion karena produk ini mengklaim bisa mencegah gatal-gatal akibat biang keringat. Kalau dari merk lain aku gak nemu produk yang bisa kayak gini. Teksturnya agak aneh pas pertama kali dikeluarin, tapi kesini-kesini terbiasa juga karena dipakai tiap hari. Walaupun sudah pakai anti bacterial wash dan calamin lotion, sepertinya Icha masih suka garuk-garuk di perutnya terutama pas cuaca lagi panas. Yah mau gimana lagi emang anaknya gak bisa diem hehe tapi segini lumayan lah. Di foto, label kemasan terlihat sobek bagian bawah ya, itu bekas digigit-gigit Icha pas lagi gak ada kerjaan. Untungnya label gak kemakan.

Kalau calamine lotion dipakai sesudah mandi pagi, beda lagi sesudah mandi sore pakai Johnson's Baby Bedtime Lotion supaya Icha tidur nyenyak di malam hari. Tekstur agak cair dan lengket. Sewaktu usianya masih new born (1-3 bulan) bedtime lotion ini gak terlalu berpengaruh karena basicly jadwal tidurnya belum teratur, tapi setelah 5 bulan ke atas, baru kerasa efeknya. Icha selesai berpakaian jam 5 sore, nyusu dari jam 6 sampai jam 7 malem, habis itu dia tidur lama. Kebangun lagi jam 12 tengah malem dan jam 3 dini hari minta nyusu aja terus tidur lagi. Menurut aku segini sih lumayan gak terlalu begadang kayak pas awal-awal lahiran. Paling begadang kalau Icha lagi sakit tapi alhamdulillah dia jarang sakit, cuma itu aja masalah kulitnya yang gampang kena gejala begini begono.


Berhubung Icha selalu pakai popok 24 jam dari usia 1 bulan, dilepas cuma pas lagi mandi, jadi aku sedia Bambi Rash Cream buat jaga-jaga kalau di selangkangan ada lecet. Tapi sekalinya lecet cuma pas di awal-awal pemakaian popok, setelah itu sampai sekarang nggak. Bambi ini juga bisa dipakai di daerah kulit lain yang merah-merah iritasi ringan. Kalau Icha pakainya di perut dan leher karena bagian ini yang suka ada merah-merahnya. Bambi ini awet banget karena dipake cuma sedikit-sedikit, dari mulai Icha lahir sampai sekarang terhitung dua kali purchase. Malah sekarang jarang dipake.


Ini ada satu perawatan khusus, sebenarnya aku gak reccomend karena harus dengan resep dokter. Untuk masalah kulitnya yang gampang kena kutu air Icha diolesin tipis-tipis salep Cinolon. Diolesinnya pas Icha lagi bobo, karena dia gak bisa diem jadi biar gak ada bagian yang terlewat. Dalam menghilangkan kutu air salep ini lumayan ampuh meski prosesnya agak lama dan gak boleh dipakai jangka panjang. Salep ini juga tersedia di apotek.


Kadang aku suka lupa urutan antara lotion - minyak telon - bedak atau minyak telon yang pertama kali dioles. Tapi aku mikirnya kalau keduluan minyak telon takut lotion nya gak terserap maksimal. Asal pengolesan lotion dilakukan dengan cepat sebelum bayi kedinginan ya gak masalah dong ya, yang penting setelah pakai minyak telon gak perlu khawatir masuk angin.



Kadang aku bingung ya, apa pentingnya bayi pakai bedak. Selama ini pakai bedak bayi karena sudah dari jaman dulu orang tua familiar dengan bedak bayi. Malah bisa dibilang yang paling populer itu minyak telon dan bedak bayi, kalau lotion dan yang lainnya kalah tenar. Tapi demi kulit Icha yang selalu terjaga dan terawat tentu saja perawatan dia harus maksimal!

Masih ada lagi nih Cussons Baby Cream varian Blueberry & Yoghurt. Karena bentuknya jar seperti cream wajah pada umumnya, jadi aku pakaikan di bagian wajah saja. Diolesin tipis-tipis karena kalau nggak dikasih cream ini, kulit dia beruntusan. Walaupun beruntusan itu bisa hilang sendiri tapi kan selagi bisa dicegah kenapa tidak. Masa tubuhnya dirawat, wajahnya nggak. Awet banget ini sekali beli belum habis-habis.



Di akhir postingan ini ada dua produk yang bukan tergolong skincare, tetapi aku perlihatkan sebagai bahan tambahan karena kalau nggak dimasukkin rasanya ada yang kurang gitu.




Jadi kalau perawatan kulitnya udah beres, aku kasih Cussons Baby Cologne beberapa tetes di pakaian. Wanginya lumayan enak, bebas alkohol, tapi sayang gak bertahan lama. Padahal aku berharap Icha wangi terus. Tetapi ya sudahlah, yang penting kan dia mandi rutin dua kali sehari ya, yang penting pada jam-jam keluar rumah dia keliatan habis mandi, keliatan gaya! Kalau anaknya aktif mau dikasih pewangi juga ntar keringetan lagi.



Botol kuning pada gambar di atas adalah Cussons Hair Lotion, aku anggap ini vitamin rambut anak. Labelnya copot karena dimainin sama Icha. Pas lagi dirawat kulitnya, Icha biasanya sambil mainin apa gitu, dan benda yang pertama kali menarik perhatiannya seringkali berwarna kuning. Jadilah hair lotion ini korban hehehe. 

Gak niat beli ini sih, cuma kebetulan aja sepaket sama skincare Cussons. Produk ini awet karena bentuknya cairan, sekali pake dua tetes udah cukup ke seluruh rambutnya Icha yang tipis-tipis. Namanya juga bayi ya lama banget tumbuh rambutnya. Ada sih anak seusianya yang punya rambut lebih lebat, sampai aku disaranin pake minyak kemiri, tapi untuk saat ini aku pengen ngabisin produk hair lotion ini dulu soalnya mubazir kan kalo gak kepake.

Tambahan nih, foto terbaru Icha pas 10 bulan! :D



Kesimpulan: 

Melakukan perawatan bayi dibutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan kedisiplinan. Ada saat-saat dimana aku malas melakukan ini semua, bosan dengan rutinitas perawatan dia yang ribet. Tetapi dengan melihat dia tertawa, tiba-tiba saja aku semangat lagi. Untuk ukuran seseorang yang manja sepertiku, kadang aku heran darimana aku bisa dapet kekuatan yang gak ada habisnya dalam mengurus Icha. 

Memang jauh lebih mudah kalau cuma dipakaikan minyak telon dan bedak saja, akan tetapi tidak semua bayi memiliki kondisi kulit yang cukup kuat menghadapi ancaman lingkungan. Kebetulan aja Icha gampang kena gatal-gatal, jadi aku sebagai ibunya menerima hal itu dan memilih untuk merawat dia secara intensif. Apakah orang tua harus memberikan ini semua atau tidak, semuanya kembali ke diri masing-masing.

Tuesday, October 18, 2016

Wardah DD Cream C-defense Review in Natural



Pernahkah kamu menemukan satu dua orang wanita yang warna kulit wajahnya berbeda dengan leher? Kasus seperti ini sering kita temui dimana-mana. Penyebabnya bisa kulit wajah menjadi lebih gelap akibat lebih sering terpapar sinar matahari, atau pemilihan shade make up (bedak, foundation, BB cream, dsb) yang tidak sesuai warna asli kulit.

Saya akui, memilih foundation yang memiliki warna sama dengan kulit asli kita itu susah banget! Bahkan sekalipun saya sudah memilih shade yang paling gelap dari BB Cream merk A, tetap saja terlalu terang di kulit wajah saya (mungkin karena BB Cream yang saya beli waktu itu shade-nya menyesuaikan dengan kulit orang Korea yang mayoritas sudah lebih putih dari orang Indo).

Suami juga sering komen, "Make up kamu kok belang ya."
Saya tanya, "Belang gimana?"
"Ya keliatan beda sama leher.." jawab suami.

Sejak itu saya menyadari bahwa saya harus mengganti BB Cream maupun alphabet Cream lainnya yang punya tekstur lebih ringan. Kemudian saya menemukan Wardah DD Cream C-defense di blognya Sister Dyne.

Wardah DD Cream C-defense ini memiliki 2 shade yaitu Light dan Natural. Menurut beberapa review yang saya baca-baca, shade Natural memiliki tone kekuning-kuningan dan aman dipakai kulit sawo matang sekalipun. Karena kulit saya kuning langsat otomatis saya merasa "Oh, inilah yang aku cari-cari selama ini!" walaupun wajah saya sudah lebih gelap dari leher dan dada akibat lebih sering terpapar sinar matahari.

DD Cream berasal dari sebutan Daily Defense (pertahanan sehari-hari), atau ada juga yang menyebut Dynamic Do all (mengerjakan semua secara dinamis). DD Cream dapat menutupi kekurangan di wajah seperti noda-noda hitam sekaligus merawat kulit. DD Cream juga memiliki tekstur yang ringan seperti BB Cream (berasal dari sebutan Blemish Balm yang artinya 'menutupi kekurangan').

Wardah DD Cream C-defense tinggi vitamin C, bekerja sebagai antioksidan, mencerahkan dan meratakan warna kulit. Saya beli online harga 25.000 untuk ukuran 20 ml. Warna kemasannya orange - jeruk sesuai dengan tema 'vitamin C'. Datang dengan box, botol tube dan tutup fliptop.





Ini saya coba tes ke kulit tangan, sebenarnya ini kebanyakan ngeluarinnya. Karena tekstur cream sedikit encer jadi tekan sedikit saja gampang keluar.



Entah karena pencahayaan atau emang benar produk ini bikin kulit keliatan lebih cerah dari sebelumnya. Agar bisa lebih yakin, saya aplikasikan ke seluruh wajah. Produk ini dibubuhkan sedikiiiit saja kalau diratakan bisa menutupi seluruh permukaan wajah, lho. Biasanya agar lebih merata saya pakai blender sponge.


Kedua gambar di ambil pada hari yang sama, tempat yang sama, pengaturan kamera juga sama. Mungkin pencahayaan sedikit berbeda karena cuaca disini berubah-ubah kadang cerah kadang mendung.

Di sebelah kiri (before) tampak wajah saya polos belum benar-benar make up. Baru pelembab, ngebentuk alis sama lipstick tipis-tipis. Tampak wajah lebih gelap dari dada, OH NO mata panda, dan bintik hitam yang berasal dari bekas jerawat membandel.

Setelah memakai Wardah DD Cream C-defense sebelah kanan (after), nggak cuma bintik hitam aja, mata panda juga tertutupi jadi nggak perlu pakai concealer lagi haha. Warna kulit wajah jadi lebih cerah merata walaupun tetap saja masih numpang sama kulit leher, tetapi it's OK yang ini lumayan mendekati daripada BB Cream sebelumnya.

Saya nggak tau apakah dalam jangka panjang bintik hitam bisa benar-benar hilang karena baru mencobanya sekali. Tekstur-nya ringan banget terasa gak pake apa-apa, this is what I love. Kalau kamu merasa terbantu dengan tulisan ini, silakan like halaman facebook blog ini Old Sunday untuk mendapatkan update artikel terbaru minggu depan. See you and be awesome! ^^